Obama Soal Hasil Pilpres: Warga AS Terpecah Belah
Getty Images
Dunia

Obama membahas sejumlah hal saat diwawancara perihal hasil pilpres AS 2020 yang berlangsung alot. Mantan Presiden Amerika Serikat itu menyoroti masing-masing kandidat yang mendapatkan lebih dari 70 juta suara.

WowKeren - Mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, mengatakan hasil pilpres pada 3 November lalu menunjukkan pemilih masih terpecah menjadi dua kelompok. Seperti yang diketahui, masing-masing kandidat (Donald Trump dan Joe Biden) mendapatkan lebih dari 70 juta suara.

"Kami masih sangat terpecah belah, kekuatan pandangan dunia alternatif yang disajikan media yang dikonsumsi pemilih membawa beban berat," kata Obama dalam sebuah wawancara, seperti dikutip dari CNN. "Sangat sulit demokrasi kami berfungsi bila kami beroperasi hanya berdasarkan sejumlah fakta yang sepenuhnya berbeda."

Obama memang melakukan serangkaian wawancara sebelum buku biografinya yang berjudul "A Promise Land" rilis pada 17 November. Buku tersebut berisi mengenai masa kecil dan awal kariernya di politik, sebelum kampanye pemilihan presiden 2008 dan empat tahun periode pertamanya di Gedung Putih.

Obama, yang menjadi presiden kulit hitam pertama AS, juga menyerang politik rasial Presiden Donald Trump. Obama mengatakan kemenangannya pada tahun 2008 membuka gelombang kegetiran dan perpecahan yang memicu obstruksi Partai Republik dan mengubah partai itu.

"Bukan preferensi saya untuk berada di luar sana, saya pikir kami dalam situasi pemilihan yang dalam norma tertentu, nilai institusional tertentu yang sangat penting telah dilanggar, ini penting bagi saya, sebagai seseorang yang mengabdi di sana untuk memberitahu masyarakat 'Ini bukan hal yang normal'," katanya.

Hingga kini, Trump menolak mengakui kekalahan, tanpa memberikan bukti ia berulang kali mengklaim pemilihan presiden telah dicurangi. Menanggapi hal tersebut, dalam wawancara terpisah dengan Scott Pelley untuk acara 60 Minutes di stasiun televisi CBS, Obama menyerang pejabat Partai Republik yang mendukung klaim palsu Trump. Ia mengatakan tuduhan tersebut membahayakan demokrasi.


"Kami tidak akan menerima bila anak-anak kami sendiri bersikap seperti itu bila mereka kalah, kan? Maksud saya bila putri-putri saya, dalam kompetisi apa pun, merengut dan menuduh pihak lawan curang tanpa bukti saat mereka kalah, kami akan memarahi mereka," katanya.

Obama mengatakan jabatan presiden adalah pekerjaan sementara. "Ketika waktu Anda habis maka tugas Anda untuk mengutamakan negara dan berpikir di luar ego dan kepentingan Anda sendiri dan kekecewaan Anda sendiri," kata Obama.

"Nasihat saya pada presiden Trump adalah bila di tahap akhir ini Anda ingin dikenang sebagai orang yang mengutamakan negara maka waktunya Anda melakukan yang sama," tambahnya.

Saat membahas masa transisi damai dengan King, Obama mengatakan hal yang sama. "Ini pekerjaan sementara, kami tidak berada di atas peraturan, kami tidak di atas hukum, itu esensi dari demokrasi kami," katanya.

Joe Biden dan wakilnya, Kamala Harris, akan dilantik pada Januari 2021 mendatang. Keduanya berhasil meraih posisi presiden-wakil presiden setelah melewati perolehan 270 suara elektoral. Sedangkan rivalnya, Donald Trump-Mike Pence, meraih 214 suara elektoral. Dalam pernyataan resminya, Biden mengungkapkan rasa bangga akan kepercayaan rakyat AS padanya dan Kamala Harris untuk mengampu masa jabatan berikutnya.

Para pemimpin dunia, termasuk sekutu AS telah memberi selamat kepada Joe Biden yang unggul dalam Pilpres AS. Mereka antara lain Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Perdana Menteri Irlandia Micheál Martin, Kanselir Jerman Angela Merkel, hingga Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

(wk/luth)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait