Menlu Armenia Undurkan Diri Usai Gelar Kesepakatan Gencatan Senjata dengan Azerbaijan
Reuters
Dunia

Pengunduran diri Menlu Armenia, Zohrab Mnatsakanyan, ini dilakukan saat tekanan PM Nikol Pashinyan untuk mundur dari jabatannya terus meningkat. Pashinyan menandatangani gencatan senjata yang dinilai menguntungkan Azerbaijan.

WowKeren - Menteri Luar Negeri Armenia, Zohrab Mnatsakanyan, mengumumkan mengundurkan diri dari jabatannya. Mnatsakanyan merupakan pejabat pemerintah dengan jabatan paling tinggi yang mundur usai Armenia menggelar kesepakatan gencatan senjata dengan Azerbaijan pada pekan lalu.

Pengunduran Mnatsakanyan ini dilakukan saat tekanan Perdana Menteri Armenia, Nikol Pashinyan, untuk mundur dari jabatannya terus meningkat. Pengunjuk rasa meminta Pashinyan mundur karena ia menandatangani gencatan senjata yang menguntungkan Azerbaijan dalam konflik di Nagorno-Karabakh. Perang tersebut telah menewaskan lebih dari 2.300 pasukan Armenia.

Pashniyan mengatakan ia bertanggung jawab atas hilangnya wilayah Armenia. Ia mengatakan perjanjian itu mencegah kerugian lebih besar dan menyelamatkan banyak nyawa setelah militer Azerbaijan mendapatkan kemajuan yang besar. Ia bersumpah bertahan di kursi pemerintahan dan membawa stabilitas di Armenia.

Peneliti dari lembaga think tank Armenia Regional Studies Center, Richard Girgagosian, memperingatkan instabilitas pemerintahan dapat terus berlanjut. Ia mengatakan langkah pemerintah untuk menyiapkan masyarakat dalam menghadapi kekalahan sangat sedikit.


"Ketegangan terus berlanjut dan sayangnya situasi di dalam negeri semakin tidak stabil," kata Girgagosian. Ia lantas mengatakan nasib Pashniyan masih belum dapat dipastikan.

"Pashinyan berkuasa pada tahun 2018 dalam aksi tanpa kekerasan rakyat meraih kemenangan, dia penyintas dan plot pembunuhan terhadapnya pun dilakukan kelompok terpinggirkan yang berkaitan dengan pemerintah sebelumnya, nasib politiknya berada di tangannya sendiri," kata Girgagosian.

Nagorno-Karabakh sendiri merupakan bagian wilayah Azerbaijan yang dihuni oleh mayoritas etnis Armenia. Sejarah konflik dua pihak yang berada di wilayah Kaukasus ini sudah terjadi sejak perang Nagorno-Karabakh pada 1980 hingga 1994.

Usai keruntuhan Uni Soviet, wilayah ini memproklamasikan kemerdekaannya pada 1991. Namun, itu tak diakui dunia internasional. Referendum kemudian dilakukan pada 2017 dengan mayoritas mendorong kemerdekaan. Negara-negara besar pun kembali tak mengakui hasilnya. Hanya kepada Armenia Karabakh bergantung.

Perundingan berlarut-larut yang dimediasi negara-negara besar hingga kini tetap tak menemui hasil signifikan. Gencatan senjata antara Karabakh dengan Azerbeijan terakhir terjadi pada 1994.

(wk/luth)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait