Ahli Tiongkok Ungkap Bukti Asal Virus Corona Bukan Dari Wuhan, Ternyata Dari Negara Ini
Dunia
Pandemi Virus Corona

Sejumlah peneliti dari Tiongkok mengungkapkan bukti jika asal virus corona bukan dari Wuhan. Mereka membeberkan teori baru COVID-19 yang diyakini berasal dari negara ini.

WowKeren - Asal mula virus corona hingga saat ini masih menjadi misteri. Virus COVID-19 pada awalnya merebak di Wuhan, Tiongkok pada Desember 2019 lalu dan sekarang telah menginfeksi lebih dari 60 juta orang di dunia.

Sejumlah peneliti dari Tiongkok baru-baru ini menerbitan jurnal ilmiah yang berisi bantahan jika virus corona berasal dari Wuhan. Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Molecular Phylogenetics and Evolution dan telah ditinjau sejawat (peer reviewed).

Pemimpin penelitian itu, Shen Libing menjelaskan mutasi dan sejarah evolusi virus di Tiongkok, dimana ia mengungkapkan virus kelelawar tidak berkaitan dengan virus manusia. Berdasarkan data itu, peneliti dari Ilmu Biologi, Institut Shanghai ini mengklaim tidak ada pihak yang bisa melacak pandemi sejak awal.

Shen dan rekan-rekannya kemudian menggunakan metode baru yang hanya menghitung jumlah mutasi pada setiap jenis virus. Strain dengan lebih banyak mutasi telah ada untuk waktu yang lebih lama, dan mutasi yang lebih sedikit justru lebih dekat dengan nenek moyang asli SARS-CoV-2.

”Tim menemukan bahwa beberapa strain memiliki mutasi lebih sedikit daripada yang pertama kali dikumpulkan di Wuhan,” klaim Shen seperti dilansir dari SCMP, Jumat (27/11). “Itu artinya Wuhan tidak bisa menjadi tempat pertama di mana penularan SARS-CoV-2 dari manusia ke manusia terjadi.”


Lebih lanjut peneliti dari Tiongkok ini menjelaskan dalam penelitiannya jika strain yang paling sedikit bermutasi ditemukan di delapan negara dari empat benua. Delapan negara ini adalah Australia, Bangladesh, Yunani, AS, Rusia, Italia, India, dan Republik Ceko.

Namun, Shen mengklaim jika virus corona tidak bisa menular ke manusia dari semua tempat ini pada waktu yang bersamaan. Biasanya, area wabah suatu virus pertama selalu muncul di suatu wilayah yang memiliki keragaman genetic terbesar di dunia.

Hal itu menandakan bahwa wabah tersebut sudah ada lebih lama. Menurut Shen, tidak ada daerah lain yang memiliki keragaman virus lebih banyak daripada India dan Bangladesh.

Terkait COVID-19, Shen lantas menuding cuaca ekstrem mungkin telah memicu pandemi virus corona di India. Pada Mei 2019, India diserang gelombang panas terpanjang kedua.

Kekeringan disebut memaksa hewan dan manusia ambil sumber air minum dari tempat yang sama. Situasi itu dinilai meningkatkan penularan virus dari binatang ke manusia. Oleh sebab itu, ia melalui penelitian meyakini jika India bisa menjadi tempat.

”Informasi geografis strain yang paling sedikit bermutasi dan keanekaragaman strain menunjukkan bahwa India menjadi tempat penularan SARS-CoV-2 dari manusia ke manusia yang paling awal terjadi,” papar Shen. “(Cuaca kering) mungkin telah meningkatkan kemungkinan virus menular ke manusia.”

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts