Pemerintah Hong Kong berencana memasang mesin penjual otomatis untuk alat pengujian virus corona (COVID-19) di 10 stasiun kereta bawah tanah di seluruh kota.
- Nidya Putri
- Rabu, 09 Desember 2020 - 13:00 WIB
WowKeren - Hong Kong berencana memasang mesin penjual otomatis untuk alat pengujian virus corona (COVID-19) di 10 stasiun kereta bawah tanah di seluruh kota. Hal ini dikarenakan adanya peningkatan angka COVID-19 di negara tersebut.
Dikutip dari AP, Rabu (9/12), sekitar 10.000 paket koleksi spesimen akan dipasok ke mesin setiap hari. Keputusan ini untuk mendorong pengendalian kasus infeksi yang terus meningkat.
Laporan pemerintah menyatakan, 95 kasus virus telah dicatat pada akhir pekan, menjadikan total infeksi menjadi 6.898, dengan 112 kematian. Selama dua pekan terakhir, kota ini telah menyaksikan penambahan 1.242 kasus, kebanyakan di antaranya penularan lokal.
Kondisi ini mendorong pihak berwenang untuk memperketat pembatasan, termasuk melarang sebagian besar pertemuan sosial hanya untuk dua orang. Lonjakan kasus juga telah menyebabkan penangguhan rencana untuk membuka gelembung perjalanan dengan Singapura, menggarisbawahi dampak wabah tersebut terhadap ekonomi kota.
Pemerintah Pusat Perlindungan Kesehatan Hong Kong menyebutkan jika kondisi penyebaran COVID-19 di negara tersebut kian parah. Lembaga ini, bahkan meminta masyarakat untuk menghindari pergi keluar, melakukan kontak sosial, dan makan di luar.
Tak hanya itu, Pemimpin Hong Kong Carrie Lam bahkan melarang warganya untuk makan di restoran setelah jam 6 sore waktu setempat. "Situasi sangat mengkhawatirkan. Gelombang ini lebih rumit dan lebih parah daripada gelombang terakhir. Kasus-kasus yang dikonfirmasi tersebar luas," kata Lam, Selasa (8/12).
“Jika kita tidak mengendalikannya secara ketat, akan ada risiko yang lebih besar," lanjutnya. "Kali ini kita akan melakukan tekanan yang bertujuan untuk membatasi arus lalu lintas pejalan kaki di jalanan."
Semenjak akhir November 2020, penambahan kasus corona harian rata-rata berada di angka tiga digit. Penambahan seperti ini pernah terjadi di Hong Kong pada pertengahan Juli 2020
(wk/nidy)