Sementara itu, Ketua Bantuan Hukum FPI Sugito Atmo Pawiro mendesak pembentukan tim independen untuk mengusut insiden yang menewaskan 6 orang laskar ini.
- Bertilia Puteri
- Senin, 14 Desember 2020 - 18:40 WIB
WowKeren - Pihak kepolisian telah menggelar rekonstruksi penembakan yang menewaskan enam orang laskar Front Pembela Islam (FPI) pada Minggu (13/12) malam hingga Senin (14/12) dini hari. Namun demikian, pihak FPI justru tidak hadir dalam rekonstruksi kasus tersebut.
Penyidik Bareskrim Polri rupanya menganggap pihak FPI tak memiliki kapasitas menjelaskan insiden bentrok di Tol Jakarta-Cikampek tersebut. Oleh sebab itu, Direktur Tindak Pidana Umum (Dirtipidum) Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Andi Rian menilai kehadiran FPI tak diperlukan dalam rekonstruksi kasus.
"Apa tujuannya ngundang FPI, memangnya dia tahu?" tutur Andi dilansir CNN Indonesia. "Kalau dia tahu kejadian, biar kami panggil jadi saksi."
Lebih lanjut, Andi menjelaskan bahwa penyidikan sejauh ini masih berjalan. Dengan demikian, bukan tidak mungkin jika pihak kepolisian akan memanggil FPI untuk dimintai keterangan. "Kalau mereka tahu terkait peristiwa ini, silakan ditunggu biar kami periksa jadi saksi," tegas Andi.
Sementara itu, Ketua Bantuan Hukum FPI Sugito Atmo Pawiro mendesak pembentukan tim independen untuk mengusut kasus ini. "Silakan kepolisian melakukan rekonstruksi internal, tapi kami dari FPI menuntut supaya diberikan hak ada rekonstruksi ulang yang nantinya dari tim pencari fakta independen," ujar Sugito.
Sugito menilai bahwa tim pencari fakta independen akan bisa menjawab sejumlah pertanyaan dalam insiden ini. Termasuk soal anggota laskar FPI yang diklaim memiliki senjata api. Selain itu, Sugito juga menyebut bahwa tim independen tersebut akan mengklarifikasi bahwa senpi tersebut jenis rakitan atau resmi.
Tak hanya itu, Sugito juga meminta bukti yang telah ditunjukkan Kapolda Metro Jaya Irjen Pol. Fadil Imran sesaat setelah kejadian. Menurutnya, bukti tersebut harus bisa dipastikan dan tidak berubah.
Di sisi lain, hasil rekonstruksi menunjukkan bahwa keenam laskar itu meregang nyawa di beberapa lokasi berbeda. Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Argo Yuwono menegaskan bahwa penembakan dilakukan karena para pelaku terus melakukan perlawanan terhadap petugas.
(wk/Bert)