Thailand Panen Kasus COVID-19, Perdana Menteri Salahkan Pekerja Migran
AP/Jerry Harmer
Dunia

Perdana Menteri (PM) Thailand Prayut Chan-O-Cha menyalahkan pekerja migran bergaji rendah sebagai penyebab wabah baru virus corona di pasar udang terbesar di negara itu.

WowKeren - Thailand kembali melaporkan adanya kasus baru COVID-19 setelah sebelumnya negara itu bersih. Diketahui, kasus baru COVID-19 itu berasal dari pasar udang di Provinsi Samut Sakhon.

Perdana Menteri Thailand Prayut Chan-O-Cha menyalahkan pekerja migran bergaji rendah sebagai penyebab wabah baru virus corona di pasar udang terbesar di negara itu. Ia menuding wabah baru berasal dari pabrik-pabrik yang mempekerjakan pekerja migran ilegal dan menuduh para pekerja tersebut melintasi perbatasan Myanmar-Thailand secara ilegal. Meski begitu ia berharap agar situasi membaik dalam waktu sepekan.

"Mereka menyelinap keluar dan masuk kembali," ujar Prayut Chan-O-Cha pada Senin (21/12). "Saya telah memberi tahu pihak berwenang bahwa harus ada sistem untuk melacak pekerja."

Dikutip dari AFP, Selasa (22/12), Thailand tengah dalam kewaspadaan tinggi ketika seorang penjual udang berusia 67 tahun dari pasar Mahachai dinyatakan positif terpapar COVID-19. Sejauh ini, pelacakan kontak dan pengujian massal telah menemukan lebih dari 800 kasus terkait klaster tersebut.


Mayoritas kasus baru berasal dari pekerja asal Myanmar yang bekerja di kapal udang dan di pabrik pengolahan yang terkait dengan industri makanan laut Thailand yang bernilai miliaran dolar. Pejabat kesehatan mengatakan tingkat infeksi di pasar Mahachai "sekitar 42 persen".

Pasar beserta area sekitarnya telah ditutup dan ribuan orang yang tinggal di sana dilarang bepergian sejak Sabtu lalu. Kemudian pada Senin (21/12), pasar telah dipasangi kawat berduri dan pihak berwenang membagikan makanan kepada pekerja yang dikarantina di dalamnya.

Seorang pengangkut udang asal Myanmar, Min Min Tun, mengatakan tuduhan Prayut "tidak adil dan sepihak", dia menyebut tuduhan dilayangkan tanpa bukti. Dia menambahkan bahwa tidak ada informasi yang diberikan tentang siapa yang dinyatakan positif saat dites, sehingga menyebabkan ketakutan di komunitas pekerja. "Kita semua bisa tertular karena kita tidak memiliki informasi siapa yang harus dihindari dan ke mana (kita) seharusnya tidak pergi," kata Min.

Perekonomian Thailand sangat bergantung pada jutaan pekerja berupah rendah dari Myanmar dan Kamboja. Mereka menjaga sektor makanan laut, manufaktur, konstruksi, dan jasa kerajaan tetap berjalan di Thailand.

Di sisi lain, pekerja migran harus menghadapi diskriminasi yang meluas. Klaster baru di pasar udang tersebut juga telah memicu sentimen anti-Myanmar di antara warga Thailand, termasuk bagi mereka yang tinggal dan bekerja di antara komunitas Myanmar di Mahachai. Sementara itu, hingga kini kasus COVID-19 di Thailand telah mencapai 5.289 kasus, 60 kematian, dan 4.053 telah pulih.

(wk/nidy)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait