Tingkat Kemanjuran Vaksin Corona Sinovac di Uji Klinis Indonesia Lebih Rendah, Ini Penjelasan BPOM
Instagram/pennyklukito
Nasional

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Lukito lantas menjelaskan mengapa efikasi vaksin Sinovac pada uji klinis di Indonesia lebih rendah dibanding negara lain.

WowKeren - Efikasi alias tingkat kemanjuran vaksin corona Sinovac berdasarkan data interim uji klinis di Bandung, Jawa Barat, mencapai 65,3 persen. Angka tersebut diketahui lebih rendah dibanding tingkat kemanjuran Sinovac berdasarkan uji klinis di Brasil yang mencapai 78 persen.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Lukito lantas menjelaskan mengapa efikasi vaksin Sinovac pada uji klinis di Indonesia lebih rendah dibanding negara lain. Menurutnya, hal tersebut disebabkan oleh jumlah kasus yang sedikit di Indonesia.

Penny menjelaskan bahwa salah satu pengukuran efikasi adalah membandingkan tingkat penularan COVID-19 di antara relawan yang disuntik vaksin dengan relawan yang disuntik plasebo atau obat kosong. "Semakin banyak (relawan yang disuntik) plasebo terinfeksi karena mungkin intensitas (penularan virus di masyarakat) sangat tinggi, tentu akan semakin tinggi efikasinya," jelas Penny dalam Rapat Kerja bersama Komisi IX DPR RI pada Kamis (14/1).

Lebih lanjut, Penny mengungkapkan bahwa jumlha kasus COVID-19 di Indonesia mencapai angka 800 ribu saat uji klinis tahap III vaksin Sinovac dilakukan. Sedangkan di Brasil, angka kasus COVID-19 kala uji klinis Sinovac digelar mencapai 8 juta.


Tak hanya jumlah kasus COVID-19 yang lebih sedikit, jumlah dan kategori relawan juga menentukan. Menurut Penny, Indonesia adalah negara dengan jumlah relawan uji klinis vaksin Sinovac paling sedikit, yaitu 1.600 orang.

Relawan di Indonesia sendiri melibatkan seluruh kalangan masyarakat. Sedangkan relawan uji klinis vaksin Sinovac di Brasil seluruhnya adalah tenaga kesehatan. Oleh sebab itu, Penny menilai tingkat efikasi di setiap negara tak dapat dibandingkan.

"Bagaimana dinamika dari relawan itu di masyarakat setelah mendapat vaksin, itu sangat menentukan," pungkas Penny. "Jadi, tidak bisa dibandingkan."

Sebelumnya, Ketua Komisi Nasional Penilai Obat Jadi, Jarir At Thobari, juga telah buka suara soal perbedaan tingkat efikasi vaksin Sinovac yang berbeda di setiap negara ini. Hasil uji klinis di Bandung disebutnya menunjukkan tingkat perlindungan untuk populasi umum saja, dan ternyata terbukti sangat tinggi. Sedangkan alasan kedua adalah perihal perilaku masyarakat di negara- negara uji klinis yang berbeda sehingga tingkat penularannya pun tak bisa disamakan.

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait