Buntut 23 Orang Meninggal, Ahli Kesehatan Tiongkok Serukan Penangguhan Vaksin Pfizer
Dunia
Vaksin COVID-19

Para ahli Tiongkok meminta jika Norwegia dan negara lain untuk menghentikan penggunaan vaksin COVID-19 Pfizer yang berbasis mRNA, usai kematian 23 orang yang dilaporkan pada Kamis (14/1) lalu.

WowKeren - Pakar kesehatan Tiongkok meminta Norwegia dan negara lain untuk menghentikan penggunaan vaksin COVID-19 Pfizer buatan Amerika Serikat. Seruan ini menyusul laporan kematian 23 orang yang mayoritas merupakan lansia di Norwegia.

Dilaporkan jika 23 orang tersebut meninggal dunia beberapa hari pasca mendapat vaksin Pfizer. Dikutip dari Global Times, para ahli Tiongkok menilai jika vaksin yang berbasis mRNA itu dikembangkan dengan tergesa-gesa dan tidak pernah digunakan dalam skala besar untuk pencegahan penyakit menular. Selain itu, keamanannya juga belum dikonfirmasi untuk penggunaan skala besar pada manusia.

Pakar di Tiongkok menyebutkan jika insiden kematian harus dinilai dengan hati-hati untuk memahami apakah kematian itu disebabkan oleh vaksin atau kondisi lain yang sudah ada sebelumnya dari orang-orang ini.

Yang Zhanqiu, ahli virologi dari Universitas Wuhan, mengatakan kepada Global Times, bahwa insiden kematian tersebut, jika terbukti disebabkan oleh vaksin, menunjukkan bahwa efek vaksin Pfizer dan vaksin mRNA lainnya tidak sebaik yang diharapkan, seperti yang diharapkan. Tujuan utama pemberian vaksin mRNA adalah untuk menyembuhkan pasien.


"Vaksin mRNA mengajarkan sel manusia untuk membuat protein untuk memicu respons imun. Kemudian, tanggapan kekebalan dapat melindungi orang agar tidak terinfeksi jika virus yang sebenarnya masuk ke dalam tubuh," jelasnya.

"Zat beracun dapat berkembang selama proses vaksinasi mRNA," imbuhnya. "Dengan demikian, keamanan vaksin tidak dapat sepenuhnya dijamin. Tapi hal ini tidak terjadi pada vaksin yang tidak aktif di Tiongkok."

Seorang ahli imunologi yang berbasis di Beijing, yang tak ingin disebutkan namanya menyebutkan bahwa dunia harus menangguhkan penggunaan vaksin mRNA COVID-19 yang diwakili oleh Pfizer. Alasannya, teknologi baru ini belum membuktikan keamanan dalam penggunaan skala besar atau dalam mencegah penyakit menular apa pun.

"Orang tua, terutama yang berusia di atas 80 tahun, sebaiknya tidak direkomendasikan untuk menerima vaksin COVID-19," ujar sumber tersebut. "Orang yang berusia di atas 80 tahun memiliki sistem kekebalan yang lebih lemah dan lebih rentan terhadap efek samping. Oleh karena itu, mereka harus dianjurkan minum obat untuk meningkatkan sistem kekebalan."

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts