Pendukung Aung San Suu Kyi dan kubu demokrat Myanmar turun ke jalan memprotes kudeta militer yang terjadi. Namun militer menerapkan upaya represi demi menghalau massa.
- Elvariza Opita
- Rabu, 10 Februari 2021 - 15:26 WIB
WowKeren - Myanmar saat ini masih memanas buntut kudeta yang dilakukan militer setempat. Diketahui Aung San Suu Kyi dan para elite kubu demokrat di Myanmar diciduk paksa oleh militer.
Protes dari pendukung Partai Liga Nasional Demokrasi (NLD) Myanmar kini turun ke jalan memprotes tindakan militer tersebut. Yang tak disangka, protes yang awalnya berjalan damai ini belakangan malah diwarnai dengan huru-hara, bahkan dilaporkan seorang demonstran tertembak peluru tajam tepat di kepalanya.
"Kami tidak bisa diam saja," tegas pemimpin protes dari kalangan muda, Esther Ze Naw, dikutip dari Reuters, Rabu (10/2). "Jika ada pertumpahan darah dalam protes ini, maka akan lebih banyak darah yang bisa tumpah jika kita membiarkan mereka (militer) mengambil alih negara."
Wanita demonstran ini langsung dilarikan kepada tim medis usai terkena tembakan dari polisi yang berjaga di Naypyitaw, Ibu Kota Myanmar, pada Selasa (8/2) kemarin. Ia tertembak karena polisi berusaha menghalau demonstran dengan menembakkan peluru ke udara. Sedangkan ada 3 demonstran lain yang juga dirawat karena terluka akibat terjangan peluru karet.
Upaya represi memang ditempuh pihak militer atas demonstrasi ini. Banyak demonstran di Mandalay dan kota-kota lain yang dilaporkan terluka akibat water cannon, sedangkan puluhan lainnya ditahan. Proses hukum atas para demonstran yang tertangkap ini sedianya dilanjutkan dengan tudingan menyebabkan aparat polisi terluka akibat lemparan batu.
Militer juga memberlakukan larangan keras perkumpulan serta menerapkan jam malam di berbagai kota besar Myanmar. Demonstrasi pembebasan Suu Kyi dan kelompoknya dilaporkan menjadi yang terbesar dalam dekade ini di Myanmar. Sebab sejak militer Myanmar berkenan berbagi kekuasaan dengan sipil pada 2011 silam, demonstrasi semacam ini hampir tak pernah terjadi.
Demonstrasi anti-kudeta juga terus meluas di Kota Utama Yangon. Sedangkan di Ibu Kota Naypyitaw, mulai banyak pekerja pemerintahan yang malah turun ke jalan mendukung demonstrasi yang digelar rakyat.
Bahkan media setempat juga sempat melaporkan sekelompok polisi di daerah Kayah di timur Myanmar bergabung dengan demonstran. "Kami tidak ingin (dipimpin) diktator," tegas kelompok polisi yang "membelot" ini.
(wk/elva)