Jubir Satgas COVID-19 Wiku Adisasmito memberikan pernyataan perihal pengembangan Vaksin Nusantara yang belakangan jadi pro-kontra karena klaim menghasilkan antibodi seumur hidup.
- Elvariza Opita
- Rabu, 24 Februari 2021 - 11:42 WIB
WowKeren - Nama mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto kembali menjadi sorotan di tengah polemik Vaksin Nusantara. Sebagai penggagas, namanya jelas dikaitkan dengan vaksin COVID-19 buatan dalam negeri yang diklaim mampu memicu produksi antibodi seumur hidup tersebut.
Kekinian Satuan Tugas Penanganan COVID-19 pun ikut menanggapi perihal vaksin yang sedang menjalani uji klinis fase II tersebut. Juru Bicara Satgas COVID-19 Prof Wiku Adisasmito mmenegaskan bahwa pada prinsipnya pemerintah terbuka dengan seluruh pengembangan vaksin dalam negeri. Hanya saja, ditegaskan Wiku bahwa kandidat vaksin tersebut harus melalui metode pengembangan dan pengujian yang ilmiah.
"Dalam masa pandemi pemerintah terus dukung dan mengawal perkembangan vaksin," terang Wiku dalam jumpa pers daring pada Selasa (23/2). "Yang tentu harus didasarkan pada ilmu, metode ilmiah, dan diuji di laboratorium sampai hasilkan kandidat vaksin yang potensial."
Kemudian Vaksin Nusantara pun, sebagaimana vaksin lainnya, harus tetap melalui uji klinis sesuai standar yang ditetapkan serta beberapa tahapan yang ketat. Termasuk melalui tahap uji praklinis yang diterapkan pada hewan percobaan.
"Kandidat vaksin tersebut harus melalui tahapan uji praklinis menggunakan hewan percobaan," tutur Wiku. "Dan menghasilkan kandidat yang aman, dan efektif menimbulkan antibodi di hewan percobaan."
Jika sudah terbukti aman, kandidat vaksin harus memasuki tahap uji klinis pada manusia dan tentu saja melibatkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Uji klinis ini sendiri meliputi 3 fase sebagaimana kandidat vaksin lainnya. Seperti fase III uji klinis yang melibatkan hingga ribuan relawan yang dilakukan vaksin Sinovac di Bandung, Jawa Barat.
"Seluruh proses pengembangan vaksin harus dipublikasikan sesuai kaidah ilmiah. Pemerintah berharap semua pengembangan vaksin yang ada di Indonesia dapat sejalan dengan prinsip-prinsip ini," pungkas Wiku.
Klaim Vaksin Nusantara yang mampu menghasilkan antibodi COVID-19 yang bertahan seumur hidup memang menjadi magnet tersendiri. Banyak akademisi yang kemudian menyampaikan kritikan atas klaim tersebut, mengingat pengujian yang masih tahap dini serta belum ada publikasi ilmiah terkait kandidat vaksin. Di sisi lain, terungkap pula bahwa Presiden Joko Widodo memiliki peran dalam pengembangan vaksin tersebut.
(wk/elva)