Akui Relawan Vaksin Nusantara Alami Nyeri-Peningkatan Kolesterol, Peneliti: Masih Dalam Toleransi
Unsplash/Steven Cornfield
Nasional
Kontroversi Vaksin Nusantara

Sebelumnya, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyampaikan bahwa puluhan relawan uji klinis fase I Vaksin Nusantara mengalami kejadian tak diinginkan (KTD).

WowKeren - Vaksin Nusantara menuai polemik usai uji klinisnya tetap dilanjutkan meski belum mendapat restu dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Kepala BPOM Penny Lukito bahkan sempat menyampaikan bahwa 20 dari 28 subjek penelitian vaksin Nusantara dilaporkan mengalami kejadian yang tidak diinginkan (KTD).

Kekinian, salah seorang peneliti Vaksin Nusantara, Muhammad Karyana, mengakui adanya sejumlah KTD pada relawan. Meski demikian, Karyana mengungkapkan bahwa KTD tersebut terbilang ringan.

"KTD kan ada dua jenis keluhan sistemik sama lokal. Sistemik itu di kita ada nyeri otot, nyeri sendi, lemas, mual, demam, dan menggigil," papar Karyana dikutip dari CNN Indonesia, Kamis (15/4). "Yang lokalnya seperti ini yang nyeri lokal, kemerahan, pembengkakan, penebalan, serta gatal pada titik suntik."

Karyana juga meluruskan pernyataan BPOM terkait puluhan relawan mengalami KTD berupa nyeri lokal, nyeri otot, nyeri sendi, nyeri kepala, penebalan, kemerahan, gatal, petechiae, lemas, mual, demam, batuk, dan pilek. "BPOM kemarin mengatakan keseluruhan subjek relawan KTD, padahal 28 ini kejadian, bukan orang," jelas Karyana.

Menurut Karyana, jumlah relawan dalam uji klinis fase I Vaksin Nusantara mencapai 31 orang. Rinciannya, tiga orang relawan dijadikan sebagai pilot project di awal, dan 28 orang lainnya menjadi subjek relawan. Ia juga menegaskan tidak ada KTD serius di uji klinis fase I Vaksin Nusantara.


"Tidak didapatkan KTD serius pada seluruh subjek uji klinis fase I," papar Karyana. "Sistemik jumlah keluhannya 20, yang lokal 8, jadi bukan orang. Karena satu orang bisa mengalami 2-3 keluhan kan."

BPOM sebelumnya juga melaporkan adanya KTD grade 3 dalam uji klinis Vaksin Nusantara, salah satunya peningkatan kolesterol. BPOM menyebut KTD grade 3 merupakan salah satu kriteria penghentian pelaksanaan uji klinik yang tercantum pada protokol uji klinik.

Terkait hal itu, Karyana memaparkan bahwa relawan yang mengalami peningkatan kolesterol hingga melebihi angka 226. Kejadian tersebut lantas dinilai masih tergolong ringan dan tak membahayakan subjek penelitian.

"Grade 3 itu sebagai warning kita memang. Tapi artinya kita menilai wong pasiennya masih sehat-sehat saja," kata Karyana. "Kecuali kalau dia akhirnya meninggal atau sampai dirawat itu baru KTD serius dan harus dihentikan."

Karyana pun membandingkannya dengan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang terjadi di Indonesia pasca penyuntikan vaksin Sinovac dan AstraZeneca. Ditemukan sejumlah kasus reaksi lokal seperti kemerahan dan nyeri pada bekas suntikan, hingga gatal-gatal. Dan juga reaksi sistemik seperti mengantuk, demam, sakit kepala, hingga nyeri otot.

Namun, Komnas KIPI menyebut reaksi lokal dilaporkan sembuh dalam periode satu hingga dua hari. "Jadi KTD vaksin Nusantara masih normal masih dalam toleransi, dan gejala hilang tanpa pengobatan," pungkasnya.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts