Vaksin AstraZeneca dan Johnson & Johnson Diduga Sebabkan Pembekuan Darah, Peneliti Ungkap Penyebab
Flickr/[email protected]
Health
Vaksin COVID-19

Peneliti Jerman menemukan dugaan alasan mengapa vaksin COVID-19 AstraZeneca dan Johnson & Johnson menyebabkan efek samping fatal berupa pembekuan darah.

WowKeren - Beberapa merek vaksin diklaim efektif dalam memberikan kekebalan terhadap infeksi virus Corona. Namun beberapa merek juga malah diduga terkait dengan efek samping yang fatal, seperti AstraZeneca dan Johnson & Johnson yang disebut-sebut menyebabkan pembekuan darah.

Tentu menjadi pertanyaan mengapa vaksin dengan efikasi yang baik seperti kedua merek tersebut malah menimbulkan kematian akibat efek samping pembekuan darah. Dan kekinian pertanyaan itu diklaim berhasil dijawab oleh sekelompok peneliti dari Jerman.

Dilansir dari Euronews, kemungkinan pembekuan darah mematikan itu terkait dengan kandungan adenovirus yang menjadi vektor pengembangan vaksin AstraZeneca dan Johnson & Johnson. Adenovirus sendiri merupakan virus yang sudah dibekukan untuk memasukkan protein lonjakan dari SARS-CoV-2 ke inti sel penerima vaksin.

Proses selanjutnya, di beberapa orang, sebagian protein virus Corona memasuki inti sel dan pecah. Fragmen protein virus Corona ini kemudian memasuki pembuluh darah dan berpotensi menyebabkan pembekuan darah. Yang menjadikannya berbahaya apabila pembekuan darah ini terjadi di organ-organ vital.


Lewat jurnal pra-studi para peneliti Jerman yang belum diulas rekan sejawat, vaksin dengan adenovirus malah mengantarkan fragmen protein lonjakan virus Corona ke inti sel. Padahal di beberapa jenis vaksin lain biasanya menuju cairan di dalam sel yang juga disebut sebagai pabrik produksi protein.

"Siklus hidup adenovirus meliputi infeksi sel, memasukkan DNA adenovirus ke dalam inti sel," tutur para peneliti, dikutip pada Jumat (28/5). "Dan kemudian dilakukan transkripsi gen oleh mesin transkripsi sel inang."

"Dan di sinilah kemudian memicu sebuah masalah," imbuh mereka. "Potongan DNA virus tidak dioptimalkan untuk ditranskripsikan di dalam inti sel."

Karena itulah masalah serupa tidak ditemui di penerima vaksin dengan vektor mRNA seperti Pfizer/BioNTech dan Moderna. Karena itulah para peneliti ini merekomendasikan desain ulang pengembangan vaksin agar tidak terjadi pembekuan darah serupa di masa depan.

Para peneliti juga menjawab mengapa penerima vaksin usia muda yang lebih rawan terkena efek samping fatal ini. Pasalnya orang berusia lebih tua umumnya mengonsumsi obat untuk mengencerkan darah. Sistem imunitas orang lebih tua pun tidak sebaik usia muda sehingga efek samping pemberian vaksin tidak terlalu tampak.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts