Varian Inggris, Afrika Selatan, Brasil, dan India kini telah diberi nama huruf yakni Alpha, Beta, Gamma, Delta. Penamaan ini disesuaikan dengan urutan pendeteksian.
- Zodiak Yanuarita
- Rabu, 02 Juni 2021 - 13:40 WIB
WowKeren - Virus corona terus bermutasi dari waktu ke waktu. Yang mana, perkembangan ini tidak sama di satu negara dengan negara yang lain sehingga tak heran jika varian virus itu diberi nama negara tempat varian itu pertama kali muncul.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun mengambil langkah untuk menyikapi hal ini. WHO mengganti nama varian COVID-19 dengan penamaan huruf Yunani. Badan kesehatan PBB mengatakan salah satu tujuan langkah itu adalah untuk menghindari stigmatisasi negara-negara di mana varian virus corona pertama kali terdeteksi.
Varian virus corona harus diketahui dengan huruf alfabet Yunani untuk menghindari laporan yang salah. Adapun sistem baru ini berlaku untuk varian yang menjadi perhatian yakni empat jenis yang kini tengah beredar dan varian tingkat kedua sedang dilacak. Varian-varian itu memang sudah memiliki nama namun WHO menganggap nama yang ada kini relatif sulit untuk diingat.
"Meskipun memiliki kelebihan, nama ilmiah ini bisa sulit untuk diucapkan dan diingat, dan rentan terhadap kesalahan pelaporan," kata WHO dalam sebuah pernyataan. "Akibatnya, orang sering menggunakan sebutan varian berdasarkan tempat di mana mereka terdeteksi, yang menstigmatisasi dan diskriminatif."
Empat varian virus corona yang dianggap mengkhawatirkan oleh badan PBB dan dikenal umum oleh publik sebagai varian Inggris, Afrika Selatan, Brasil, dan India itu kini telah diberi nama huruf yakni Alpha, Beta, Gamma, Delta. Penamaan ini disesuaikan dengan urutan pendeteksian varian yang dimaksud.
Sedangkan jika ke depannya ada varian baru yang ditemukan maka diberi nama sesuai urutan alfabet. Pemimpin teknis WHO Maria Van Kerkhove mengingatkan jika penamaan ini tak serta merta menghilangkan penamaan ilmiah yang sudah ada.
"Label tidak menggantikan nama ilmiah yang ada, yang menyampaikan informasi ilmiah penting dan akan terus digunakan dalam penelitian," ujarnya. "Label-label ini akan membantu diskusi publik tentang VOC/VOI karena sistem penomorannya sulit untuk diikuti."
(wk/zodi)