Berdasarkan data yang dirilis Kementerian Kesehatan dan Tenaga Kerja Jepang pada Kamis (3/6), Negeri Sakura hanya mencatat 840.832 kelahiran pada tahun 2020.
- Bertilia Puteri
- Sabtu, 05 Juni 2021 - 19:54 WIB
WowKeren - Data resmi menunjukkan angka kelahiran di Jepang mencapai rekor terendah tahun lalu. Hal ini menyoroti kekhawatiran dampak pandemi virus corona (COVID-19) terhadap tingkat kesuburan Jepang, salah satu yang terendah di dunia.
Berdasarkan data yang dirilis Kementerian Kesehatan dan Tenaga Kerja Jepang pada Kamis (3/6), Negeri Sakura hanya mencatat 840.832 kelahiran pada tahun 2020. Angka tersebut menurun 2,8 persen dibanding tahun sebelumnya. Pihak otoritas juga menyatakan bahwa angka kelahiran pada tahun 2020 menjadi yang terendah sejak rekor awal pada tahun 1899.
Data juga menunjukkan bahwa tingkat kesuburan (perkiraan jumlah kelahiran dari setiap perempuan) Jepang mengalami penurunan menjadi 1,34. Angka tersebut merupakan salah satu yang terendah di dunia.
Sementara itu, jumlah pernikahan di Jepang tercatat berada di angka 525.490. Jumlah tersebut adalah titik terendah yang tidak terlihat sejak akhir Perang Dunia II.
Politisi Jepang pun menyatakan keprihatinan mereka atas menyusutnya populasi dalam waktu yang lebih cepat dari sebelumnya. Pasangan di Jepang disebut ragu-ragu untuk memiliki anak karena pandemi memicu ketidakstbilan keuangan. Selain itu pandemi juga memunculkan ketakutan untuk pergi ke rumah sakit.
Adapun penurunan angka kelahiran telah menjadi tren umum di kalangan negara-negara kaya. Jepang sendiri telah sejak lama mencari cara untuk mendorong ledakan angka kelahiran mereka.
Pekan ini, Tiongkok bahkan mengumumkan bahwa pasangan diizinkan untuk memiliki tiga orang anak. Kebijakan tersebut diumumkan setelah sensus menunjukkan bahwa populasi Tiongkok menua dengan cepat.
Diketahui, Tiongkok telah mengadopsi kebijakan satu anak yang ketat selama hampir 40 tahun. Namun pada tahun 2016, Tiongkok melonggarkan peraturan tersebut menjadi dua anak karena khawatir dengan angkatan kerja yang makin menua hingga ekonomi negara stagnan.
"Untuk merespons aktif menuanya populasi, pasangan bisa memiliki tiga anak," tulis media pemerintah Xinhua.
Adapun Biro Statistik Nasional mencatat angka kelahiran tahunan Tiongkok merosot ke rekor terendah dengan 12 juta pada tahun 2020. Angka tersebut mengancam krisis demografi dan kurangnya pekerja muda dalam menggerakkan ekonomi.
(wk/Bert)