30.000 Perawat di Selandia Baru Mogok Kerja Tuntut Kenaikan Gaji
Unsplash/Luis Melendez
Dunia

Kebuntuan terjadi ketika Perdana Menteri Jacinda Ardern menghadapi kritik karena tidak berbuat cukup untuk mengatasi ketidaksetaraan yang kian meningkat.

WowKeren - Sekitar 30.000 perawat di Selandia Baru meninggalkan pekerjaan mereka pada hari Rabu (9/6) dalam pemogokan delapan jam nasional. Aksi mogok kerja ini dilakukan usai negosiasi dengan pemerintah untuk kenaikan gaji dan perbaikan kondisi kerja tak membuahkan hasil.

Organisasi Perawat Selandia Baru (NZNO) menolak kenaikan gaji 1,4 persen yang diusulkan oleh Dewan Kesehatan Distrik awal pekan ini. Pemerintah mengatakan jika perawat menuntut peningkatan sebesar 17 persen yang mana jumlah ini tidak mampu dipenuhi oleh pihaknya. Kendati demikian, mereka berjanji untuk melanjutkan negosiasi.

Kebuntuan terjadi ketika Perdana Menteri Jacinda Ardern menghadapi kritik karena tidak berbuat cukup untuk mengatasi ketidaksetaraan yang kian meningkat, meskipun ekonomi bangkit kembali dari pandemi COVID-19 lebih cepat dari yang diharapkan. Ribuan perawat berbaris di jalan-jalan memegang plakat, sementara yang lain berkumpul di taman dan di luar rumah sakit di seluruh negeri.

Dr Julian Vyas, Presiden Asosiasi Spesialis Medis Bergaji mengatakan jika eksistensi perawat bersifat vital. Sehingga jika mereka memutuskan untuk melakukan mogok kerja tentu akan menimbulkan dampak yang cukup signifikan.


"Perawat adalah perekat yang menyatukan layanan perawatan," ujarnya menurut portal berita online Newshub. "Jika mereka mogok, Anda bisa yakin ada masalah besar yang perlu diperbaiki."

Para perawat mengeluhkan gaji yang rendah sementara mereka terus kelelahan dengan kondisi yang memburuk imbas pandemi COVID-19. NZNO mengatakan dalam sebuah pernyataan jika jumlah gaji saat ini tidak mampu menarik orang ke dalam profesi atau mempertahankan orang yang sudah bergelut di bidang itu.

Tak hanya itu, para staf seakan sudah mencapai batasnya hingga menempatkan mereka dan pasien mereka dalam risiko. Diane McCulloch, Spesialis Perawat Klinis kepada Newshub mengatakan jika para perawat selama ini telah bekerja mempertaruhkan nyawa.

"Kami berdiri selama pandemi. Para perawat telah mempertaruhkan nyawa mereka, dan juga keluarga mereka," kata Diane. "Dan ini adalah ucapan terima kasih yang diberikan kepada kami."

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait