Atlet Myanmar Tuai Kecaman Usai Umumkan Mau Gabung di Olimpiade Tokyo
Unsplash/Kyle Dias
Dunia
Kontroversi Olimpiade Tokyo

Meski Thet Htar Thuzar adalah atlet yang populer di negaranya, namun keputusannya untuk datang ke Tokyo rupanya tak disambut baik oleh para pengguna media sosial di sana.

WowKeren - Pemain bintang bulu tangkis asal Myanmar Thet Htar Thuzar menghadapi reaksi keras dari orang-orang di negaranya. Hal ini terjadi setelah ia mengumumkan akan menjadi bagian dari delegasi negaranya ke Olimpiade Tokyo minggu depan.

Banyak warga negara Myanmar memandang setiap partisipasi dalam Olimpiade oleh atlet lokal sebagai sikap tunduk kepada militer Myanmar, yang merebut kekuasaan dalam kudeta pada Februari. Pada 6 Juli, Thet Htar Thuzar mengumumkan melalui media sosialnya bahwa dia akan ambil bagian dalam Olimpiade mulai 23 Juli.

Dia mengatakan mimpinya yang telah lama menjadi kenyataan. Ia juga mengungkapkan harapannya bahwa dia dapat membuat rekan-rekannya tersenyum bahkan untuk sesaat di tengah kesulitan yang mereka hadapi.

Surat kabar yang dikelola pemerintah Myanmar juga memuat berita, bersama dengan fotonya pada 7 Juli, melaporkan berita tersebut. "Saya akan berusaha menjadi perwakilan terbaik untuk semua rakyat Myanmar," katanya seperti dikutip surat kabar itu.


Meski Thet Htar Thuzar adalah atlet yang populer di negaranya, namun keputusannya untuk datang ke Tokyo rupanya tak disambut baik oleh para pengguna media sosial di sana. Ada warganet yang menegaskan jika ia tak akan lagi mendukung atlet tersebut jika tetap nekat berangkat ke Tokyo dan tidak bergabung dengan gerakan pembangkangan sipil.

Sementara itu, lainnya menyahut jika mereka tidak lagi bangga terhadap Thet Htar Thuzar. Saat ini, masyarakat sipil Myanmar memang tampaknya tidak tertarik pada apa pun selain berusaha untuk menggulingkan diktator yang tengah berkuasa.

Sebelumnya, Kementerian Informasi Myanmar mengumumkan akhir 12 Juli bahwa Thet Htar Thuzar dan dua atlet lainnya akan menjadi bagian dari delegasi Olimpiade negara itu ke Tokyo. Mereka dijadwalkan akan bertolak dari Myanmar pada 22 Juli.

Sejak kudeta, banyak orang Myanmar telah melakukan protes terhadap pemerintah militer dan berhenti bekerja dalam gerakan pembangkangan sipil. Menurut sebuah kelompok hak asasi manusia setempat, 899 orang tewas dalam tindakan keras militer pada 10 Juli.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts