Ilmuwan Belanda Akui Antibodi COVID-19 Ada di Tubuh Pasien Italia Sebelum Wuhan Catat Kasus Pertama
AFP/Piero Cruciatti
Dunia
Pandemi Virus Corona

Awalnya, diperkirakan jika virus tersebut belum secara resmi sampai ke Italia hingga Februari tahun 2020. Para peneliti kemudian menguji darah 959 sukarelawan.

WowKeren - Asal muasal pandemi COVID-19 hingga kini masih menjadi perdebatan. Sederet penelitian pun dilakukan untuk mengetahui seluk-beluk virus tersebut termasuk asal-muasalnya.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan Belanda tentang asal-usul COVID-19 telah menjelaskan perdebatan itu. Ilmuwan Belanda mengonfirmasi pasien Italia memiliki antibodi COVID-19 pada Oktober 2019.

Diketahui, tahun lalu ilmuwan Italia dari laboratorium VisMederi di Universitas Siena dan Institut Kanker Milan menerbitkan sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa antibodi untuk virus corona SARS-CoV-2 ditemukan dalam darah sukarelawan di Italia pada Oktober 2019. Padahal, kasus virus pertama yang dilaporkan terjadi di Wuhan pada Desember 2019.

Awalnya, diperkirakan jika virus tersebut belum secara resmi sampai ke Italia hingga Februari tahun berikutnya. Para peneliti kemudian menguji darah 959 sukarelawan yang mengambil bagian dalam uji coba skrining kanker antara September 2019 dan Maret 2020. Dari kelompok itu, 11,6 persen memiliki tanda-tanda dalam darah mereka yang menunjukkan mereka telah memiliki SARS-CoV-2.


Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kemudian meminta sampel tersebut untuk diuji ulang dengan bantuan peneliti di Erasmus University of Rotterdam. Para ilmuwan Italia sejak itu menerbitkan temuan mereka dalam sebuah artikel yang disebut "Garis waktu penyebaran SARS-CoV-2 di Italia: hasil dari pengujian ulang serologis independen."

Para peneliti mengonfirmasi temuan studi asli. Tapi itu belum ditinjau oleh rekan sejawat. Rekan-rekan Belanda mereka juga mengatakan bahwa hasilnya tidak konklusif. Perselisihan berpusat di sekitar kriteria untuk mengidentifikasi antibodi SARS-CoV-2 dalam darah. Studi asli membutuhkan satu dari tiga antibodi terkait virus corona untuk menunjukkan infeksi sebelumnya. Penelitian oleh Universitas Erasmus mengonfirmasi bahwa antibodi yang ditemukan oleh para peneliti Italia ada.

Namun, Universitas Erasmus mengharuskan ketiganya untuk menunjukkan infeksi baru-baru ini. Tiga dari sampel yang diuji buta oleh para peneliti dari penelitian asli Italia dinyatakan positif.

"Berdasarkan kriteria yang kami tetapkan," kata Marion Koopmans, ahli virus Belanda di Universitas Erasmus. "Kami tidak dapat memastikan mayoritas positif. Oleh karena itu, kami memiliki kesimpulan yang berbeda."

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts