PJJ Sering Alami Kendala, Pemda Pantau Pelaksanaan Sekolah Luring Saat Pandemi COVID-19
Pexels/Agung Pandit Wiguna
Nasional
Sekolah di Tengah Corona

Sudah lebih dari satu tahun, para siswa melaksanakan sekolah secara daring. Hal ini dilakukan sebagi upaya pemerintah agar tidak terjadi klaster baru dan siswa terinfeksi COVID-19.

WowKeren - Selama pandemi COVID-19 berlangsung, kegiatan pembelajaran yang biasa dilaksanakan secara tatap muka di sekolah, beralih menjadi daring. Hal ini tentunya terdapat berbagai kendala yang dihadapi oleh siswa, seperti jaringan internet yang lambat.

Sementara itu, pemerintah memutuskan untuk melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) agar para siswa tidak terinfeksi COVID-19. Kepala Sekolah SMPN 7 Satu Atap Panggarangan, Banten, Ujo Robi Saputra mengatakan bahwa saat ini sekolahnya masih menyelenggarakan PJJ.

Namun selama pelaksanaan PJJ, banyak siswa yang mengeluhkan mengalami kendala yakni jaringan internet yang tidak lancar. "Hambatannya masalah jaringan itu, karena di sini kondisi geografisnya blank spot, di pertengahan keramaian kota, sehingga jaringan itu masalah utama," tutur Ujo, Rabu (28/7).

Terkait kendala yang dihadapi oleh para siswanya, Ujo mengatakan bahwa pihaknya selalu berkoordinasi dengan pemerintah daerah (pemda). Pihak dinas setempat juga telah menampung kendala-kendala yang sering dialami oleh sekolahnya.


Dinas pun mengusulkan untuk melaksanakan sekolah luring atau secara langsung. Hal ini penting dilakukan agar pembelajaran bisa kembali berjalan lancar. Dinas pun mengirim modul yang dibuat oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) terkait penyelenggaraan sekolah tatap muka di masa pandemi COVID-19.

Ujo mengungkapkan hanya beberapa siswa yang bisa mengikuti PJJ dengan lancar. Maka dari itu, berbekal modul dari Kemendikbudristek, pihaknya membuka sekolah tatap muka bagi siswa yang tidak bisa mengikuti secara daring. Sementara untuk siswa yang jaringan internetnya lancar, tetap mengikuti sekolah secara daring.

Adapun sistem yang diterapkan adalah para siswa yang tidak bisa mengikuti secara daring, akan diberikan modul. Kemudian juga memanfaat Bantuan Operasional Sekolah (BOS) afirmasi untuk membeli tablet dan dipinjamkan kepada siswa yang membutuhkan. Sebelum dipinjamkan kepada murid, terlebih dahulu di-install modul pembelajaran.

Selanjutnya, para siswa dibagi jadwalnya selama Senin hingga Sabtu. Para siswa hanya perlu datang ke sekolah satu kali seminggu. "Mereka berkumpul tapi dengan pembatasan maksimal 50 persen mereka hadir di sini, dengan pembagian waktu yang sudah ditentukan berdasarkan jadwal satu pekan sekali," tandas Ujo.

(wk/tiar)

You can share this post!

Related Posts