Selama tahun 2021, 4.000 orang telah diamankan oleh otoritas kontrol perbatasan Lituania. Mereka berusaha melintasi perbatasan negara itu dengan Belarusia.
- Zodiak Yanuarita
- Sabtu, 07 Agustus 2021 - 14:09 WIB
WowKeren - Polandia dan Lituania mulai kewalahan menghadapi semakin membludaknya jumlah imigran yang datang dari negara tetangga mereka, Belarusia. Kedua negara ini telah meminta bantuan lembaga-lembaga Eropa untuk menanggapi peningkatan jumlah migran yang menyeberang ke negara-negara itu dari Belarusia.
Polandia bahkan menyebut situasi ini sebagai perang hibrida. Sedangkan UE maupun Lituania menuduh Belarusia dengan sengaja mengizinkan migran untuk menyeberang sebagai upaya pembalasan. Hal ini diduga terkait sanksi yang dikenakan UE terhadap Belarusia karena menghentikan pesawat Ryanair untuk menangkap seorang jurnalis pada bulan Mei.
Selama tahun 2021, 4.000 orang telah diamankan oleh otoritas kontrol perbatasan Lituania. Mereka berusaha melintasi perbatasan negara itu dengan Belarusia. Jumlah ini melonjak dari hanya 81 orang pada tahun 2020. Selama dua hari terakhir, Polandia mengalami peningkatan serupa.
Sementara itu, penjaga perbatasan Polandia telah menyetop 62 orang yang menyeberang ke negara itu pada Rabu (4/8) dan 71 lainnya antara hari itu dan Kamis (5/8) malam. Bahkan bulan lalu, sedikitnya 242 orang ditahan.
Wakil Menteri Dalam Negeri Polandia Maciej Wasik mengatakan bahwa imigran ini tak hanya terdiri dari mereka yang berusia dewasa. "Ada pria dan wanita muda dengan anak-anak. Belarusia menggunakan imigran ini sebagai senjata hidup," ujarnya.
Ia melanjutkan bahwa situasi itu juga merupakan buah dari pemberian suaka terhadap atlet Belarusia. Diketahui, Krystsina Tsimanouskaya diberikan perlindungan oleh Polandia setelah dia terpaksa meninggalkan Olimpiade karena mengkritik pelatihnya lewat Instagram.
"Dalam beberapa hari terakhir, kami telah melihat peningkatan (dalam migran)," kata Wasik. "Kami menganggapnya sebagai reaksi terhadap pemberian suaka kepada sprinter Belarusia."
"Kami mengutuk persenjataan migrasi tidak teratur oleh rezim Lukashenko," kata Perdana Menteri Polandia dan Lituania Mateusz Morawiecki dan Ingrida Simonyte dalam pernyataan bersama pada hari Jumat (6/8). "Yang bertujuan memberikan tekanan politik pada UE dan masing-masing Negara Anggotanya."
"Kami memohon kepada Komisi Eropa, Frontex, EASO, semua Negara Anggota UE dan mitra kami di luar UE," lanjut mereka. "Atas dukungan politik dan praktis yang diberikan dalam menghadapi tantangan ini."
(wk/zodi)