Pandemi COVID-19 yang berkepanjangan tentunya membawa dampak tersendiri bagi masyarakat. Sebuah penelitian mengatakan pembatasan sosial saat pandemi berdampak pada psikis anak-anak.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Selasa, 10 Agustus 2021 - 21:11 WIB
WowKeren - Pandemi COVID-19 yang menyerang seluruh negara di dunia tentunya membawa dampak tersendiri. Selain dampak terhadap perekonomian suatu negara, ternyata pandemi membawa pengaruh terhadap kondisi psikis seseorang.
Berdasarkan sebuah penelitian, pandemi COVID-19 juga membawa dampak bagi kesehatan mental anak muda. "Terisolasi secara sosial, dijauhkan dari teman-teman mereka, rutinitas sekolah dan kegiatan ekstrakulikuler selama pandemi terbukti sulit bagi kaum muda," tutur Sheri Madigan selaku pemimpin peneliti.
Asisten Profesor di Departemen Psikologi University of Calgary Kanada itu mengatakan bahwa pihak terkait harus betul-betul mempertimbangkan kembali terkait proses pembelajaran anak-anak. "Pertimbangan penting untuk menjaga sekolah tetap terbuka adalah kesehatan mental dan kesejahteraan kaum muda," tambahnya.
Menurut Madigan, anak-anak cenderung berkembang ketika lingkungan mereka dapat diprediksi dan pembelajaran tatap muka memungkinkan rutinitas dan struktur yang lebih konsisten. Sehingga bisa menjaga sekolah tetap terbuka dan melindungi anak-anak dari masalah kesehatan mentalnya.
"Ketika pandemi berlanjut, bersama dengan langkah-langkah keselamatan kesehatan masyarakat seperti penutupan sekolah dan jarak sosial, gejala kecemasan dan depresi yang signifikan secara klinis kemungkinan akan berlanjut dan meningkat untuk kaum muda juga," terang Madigan.
Dalam penelitian terkait dampak pandemi COVID-19 bagi kesehatan mental anak, para peneliti meninjau sekitar 29 kajian. Dari kajian penelitian itu, di antaranya ada yang diterbitkan dan tidak dipublikasikan sebelumnya dari Januari 2020 hingga Maret 2021 yang mencakup sekitar 80.900 anak-anak dan remaja.
Madigan menyampaikan bahwa studi dilakukan di seluruh dunia, termasuk Amerika Serikat (AS), di mana permasalahannya sama akutnya dengan di seluruh dunia. Menurutnya, anak-anak yang lebih dewasa memiliki banyak perjuangan dalam menghadapi kesehatan mental dibandingkan yang lebih muda.
Khususnya anak perempuan memiliki risiko lebih besar untuk depresi dan kecemasan. Kemudian Madigan menuturkan bahwa kesehatan mental menjadi semakin buruk seiring pandemi COVID-19 berlanjut.
"Meskipun ada beberapa inisiatif pemulihan COVID-19 yang ditargetkan pada kaum muda, kita perlu memprioritaskan rencana pemulihan kesehatan mental yang akan mengatasi peningkatan keparahan penyakit mental pada anak-anak dan remaja," tandas Madigan. "Dan kemungkinan meningkatnya permintaan untuk layanan kesehatan mental di kalangan kaum muda."
(wk/tiar)