Banyak yang khawatir Taliban akan memundurkan kemajuan yang telah diperoleh perempuan dan etnis minoritas dalam dekade terakhir, serta membatasi pekerjaan jurnalis dan pekerja LSM.
- Bertilia Puteri
- Senin, 16 Agustus 2021 - 17:04 WIB
WowKeren - Taliban telah berhasil menduduki Ibu Kota Afghanistan, Kabul, pada Minggu (15/8). Taliban pun menjanjikan era baru yang damai di Afghanistan, dengan amnesti dan kembalinya kehidupan normal.
Namun warga Afghanistan yang telah tinggal di daerah-daerah kekuasaan Taliban dalam beberapa tahun terakhir serta mereka yang sempat merasakan era pemerintahan brutal Taliban memiliki sejumlah ketakutan tersendiri. Banyak yang khawatir Taliban akan memundurkan kemajuan yang telah diperoleh perempuan dan etnis minoritas dalam dekade terakhir, serta membatasi pekerjaan jurnalis dan pekerja LSM.
Saat Taliban mencapai Kabul pada Minggu pagi, sejumlah foto yang menggambarkan situasi masyarakat beredar di media sosial. Para pemuda berlari pulang untuk mengganti jeans dan kaus yang mereka kenakan dengan pakaian tradisional shalwar kamiz. Banyak warga yang tampaknya bersembunyi hingga mereka mendapat kepastian perintah seperti apa yang akan diterapkan oleh para militan itu.
Seorang wanita pekerja LSM lokal berusia 25 tahun di Kota Herat mengaku sudah tidak pernah meninggalkan rumah berminggu-minggu karena pertempuran tersebut. Kota Herat sendiri telah jatuh ke tangan Taliban pekan lalu. Pekerja LSM yang tak disebutkan namanya tersebut mengaku hanya ada sedikit perempuan yang berani keluar ke jalanan, para wanita yang berprofesi sebagai dokter bahkan tetap berdiam di rumah hingga situasinya jelas.
"Saya tidak bisa menghadapi pejuang Taliban," ujar wanita tersebut via telepon, dikutip Associated Press. "Saya tidak memiliki perasaan yang baik tentang mereka. Tidak ada yang bisa mengubah sikap Taliban terhadap wanita dan anak perempuan, mereka masih ingin perempuan tinggal di rumah."
Lebih lanjut, wanita tersebut mengaku berencana memulai program Master di Universitas tahun ini. Ia mengaku tidak siap untuk mengenakan burqa yang dulunya wajib dikenakan wanita di bawah pemerintah Taliban.
"Saya tidak bisa menerimanya. Saya akan memperjuangkan hak saya, apa pun yang terjadi," tuturnya.
Selama pemerintaha mereka sebelumnya, Taliban sempat melarang wanita bekerja di luar rumah atau bersekolah. Kala itu, wanita diharuskan mengenakan burqa dan ditemani kerabat laki-laki setiap hendak keluar rumah.
Belakangan, pemimpin Taliban mengaku telah terbuka terhadap pendidikan perempuan. Namun kelompok hak asasi mengatakan aturan terkait hal tersebut masih bervariasi tergantung pada komandan lokal dan komunitas itu sendiri.
"Kesenjangan antara pernyataan resmi Taliban tentang hak dan posisi pembatasan yang diadopsi oleh pejabat Taliban di lapangan menunjukkan bahwa Taliban jauh dari konsensus internal tentang kebijakan mereka sendiri," ujar Human Rights Watch yang berbasis di New York dalam sebuah laporan tahun lalu.
Bulan lalu, pejuang Taliban merebut distrik Malistan di provinsi Ghazni selatan dan mencari orang-orang yang telah bekerja dengan pemerintah dari pintu ke pintu. Menurut Komisi Independen Hak Asasi Manusia semi-resmi Afghanistan, Taliban kala itu telah menewaskan sedikitnya 27 warga sipil, melukai 10 orang lainnya dan menjarah rumah.
(wk/Bert)