Kementerian Kesehatan Singapura menawari remaja tersebut bantuan keuangan satu kali sebesar SGD 225 ribu atau setara Rp 2,3 miliar di bawah Program Bantuan Keuangan Cedera Vaksin (VIFAP).
- Bertilia Puteri
- Senin, 16 Agustus 2021 - 17:31 WIB
WowKeren - Pada awal Juli 2021 lalu, seorang remaja berusia 16 tahun asal Singapura dilaporkan mengalami serangan jantung enam hari usai menerima dosis pertama vaksin COVID-19 hingga harus dirawat di ICU. Kementerian Kesehatan Singapura (MOH) lantas mengungkapkan temuan baru penyelidikan medis kasus tersebut pada Senin (16/8) hari ini.
Dalam siaran pers resminya, MOH menyatakan bahwa penyelidikan medis menemukan bahwa remaja tersebut telah mengembangkan miokarditis parah akut (peradangan otot jantung), yang menyebabkan serangan jantungnya. MOH menyatakan bahwa miokarditis "kemungkinan merupakan efek samping serius yang timbul dari vaksin COVID-19 yang diterimanya".
MOH juga menambahkan bahwa reaksi tersebut kemungkinan diperparah oleh konsumsi kafein yang tinggi dalam minuman energi dan suplemen, serta olahraga angkat besi yang dilakukan remaja tersebut.
Lebih lanjut, MOH juga mengakui adanya "peningkatan kecil risiko" miokarditis dan perikarditis (radang perikardium, atau kantung yang mengelilingi jantung) setelah pemberian vaksin. Namun tingkat kejadian lokal rendah, dengan hanya 0,48 kasus per 100.000 dosis yang diberikan.
"Mayoritas telah merespons pengobatan dengan baik dan telah pulih atau dipulangkan dengan baik dari rumah sakit," demikian keterangan MOH.
Sementara itu, remaja tersebut kini telah pulih dan kini tengah menjalani rehabilitasi rawat inap. "Dia membuat kemajuan yang baik dan dapat melakukan aktivitasnya sehari-hari tanpa bantuan," tulis MOH.
Kemungkinan, remaja tersebut akan dipulangkan dalam beberapa minggu mendatang. Namun ia bisa saja masih membutuhkan rehabilitasi rawat jalan untuk beberapa waktu, sebelum bisa kembali ke sekolah dan melanjutkan kegiatan lain.
"Tim medis akan melanjutkan perawatannya dan memantau kondisinya," lanjut MOH.
Adapun remaja tersebut dan keluarganya juga telah ditawari bantuan keuangan satu kali sebesar SGD 225 ribu atau setara Rp 2,3 miliar di bawah Program Bantuan Keuangan Cedera Vaksin (VIFAP). Diketahui, jumlah pembayaran VIFAP tergantung pada tingkat keparahan efek samping yang serius.
Dalam keterangan di situs web resmi MOH, bantuan satu kali sebesar SGD 225 ribu akan diberikan untuk efek samping serius yang mengakibatkan kematian atau cacat parah permanen. Panel klinis independen yang ditunjuk untuk menilai dan mengadili permohonan VIFAP tersebut menemukan bahwa meski kondisi remaja itu telah mengalami peningkatan, ia akan memerlukan perawatan dan rehabilitasi selama beberapa waktu untuk melanjutkan pemulihannya karena kondisi yang "parah dan kritis". Oleh sebab itu ia diberi bantuan SGD 225 ribu.
(wk/Bert)