Di tengah pandemi COVID-19 yang menyebar di Myanmar, kudeta masih juga belum diakhiri oleh junta militer. Bahkan baru-baru ini, kelompok aktivis menyebut semakin banyak korban berjatuhan.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Kamis, 19 Agustus 2021 - 11:58 WIB
WowKeren - Kudeta yang berlangsung sejak 1 Februari lalu di Myanmar hingga saat ini masih belum juga berakhir. Sebagai pengingat, kudeta dilakukan oleh junta militer terhadap pemimpin Myanmar terpilih Aung San Suu Kyi.
Berdasarkan keterangan dari sebuah kelompok advokasi, pasukan keamanan Myanmar telah membunuh lebih dari seribu warga sipil sejak kudeta berlangsung. Seperti yang diketahui, selama kudeta berlangsung, banyak masyarakat Myanmar yang berdemo untuk melawan junta militer.
Akan tetapi hal tersebut mendapat perlawanan dari junta militer yang diketahui menggunakan tindakan keras berdarah dan peluru tajam. Meski demikian, masyarakat anti junta militer tidak gentar, dan masih terus turun ke jalan setiap harinya dalam demonstrasi.
Sementara itu, Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik yang merupakan sebuah kelompok aktivis yang mengkonfirmasi jumlah kematian masyarakat sipil Myanmar menyebut ada total sekitar 1.006 orang meninggal per Rabu (18/8). Jumlah ini merupakan total korban selama kudeta berlangsung.
"Selama militer berkuasa, mereka akan terus membunuh pemuda, profesional, seperti dokter dan guru, pria, wanita, dan anak-anak," ungkap Ko Bo Gyi kepada Sekretaris bersama AAPP. "Mereka tidak hanya membunuh hidup kita, tetapi juga masa depan negara dan harapan demokrasi."
Ko Bo Gyi sendiri merupakan kelompok yang aktivis yang disebut sebagai organisasi "melanggar hukum" oleh junta militer. Sebaliknya, Ko Bo Gyi juga menuding bahwa junta militer menggunakan virus COVID-19 dalam melancarkan tujuannya mengkudeta Suu Kyi.
Sejauh ini, Myanmar telah mencatat lebih dari 300 ribu kasus COVID-19, dan angka kematian mencapai 13.786 orang. Tidak hanya itu, kondisi krisis kesehatan ini diperburuk dengan kurangnya perawatan medis formal karena banyak rumah sakit yang telah dikosongkan dari staf yang bergabung dengan pemogokan nasional melawan junta.
Di sisi lain, para pasien juga enggan pergi ke rumah sakit yang dikelola oleh junta militer. Hal ini membuat antrean panjang untuk mendapatkan oksigen dan pasokan medis di apotek seluruh Yangon.
Junta militer telah mengakui berulang kali bahwa kudeta tersebut dilakukan dengan menuduh kecurangan yang meluas dalam pemilihan 2020. Kemudian, memberikan angka kematian warga sipil yang jauh lebih rendah.
(wk/tiar)