Institusi medis yang dapat menangani ibu hamil dengan COVID-19 sifatnya terbatas. Pasalnya, ada lebih banyak komplikasi terkait pencegahan penyebaran virus di rumah sakit.
- Zodiak Yanuarita
- Jumat, 20 Agustus 2021 - 11:01 WIB
WowKeren - Seorang wanita hamil di Kashiwa, dekat Tokyo kehilangan bayinya setelah dia dipaksa melahirkan prematur di rumah. Wanita yang dites positif terkena virus corona tersebut tidak dapat menemukan rumah sakit yang mau menerimanya.
Hal itu sebagaimana disampaikan pihak berwenang setempat, Kamis (19/8). Upaya berulang yang dilakukan oleh pihak berwenang untuk wanita tersebut agar bisa dirawat di rumah sakit tidak berhasil. Peristiwa ini semakin menjelaskan bagaimana rumah sakit berada di bawah tekanan karena penyebaran eksplosif COVID-19 di Jepang.
Institusi medis yang dapat menangani ibu hamil dengan COVID-19 sifatnya terbatas. Pasalnya, ada lebih banyak komplikasi terkait pencegahan penyebaran virus di dalam rumah sakit.
Menurut pejabat kota Prefektur Chiba, wanita itu mengeluh bahwa perutnya terasa lebih kencang daripada hari sebelumnya ketika pusat kesehatan masyarakat kota menelepon untuk memeriksanya pada Selasa pagi. Para pejabat mengatakan pihak pusat tersebut berusaha mengatur agar dia dirawat di rumah sakit namun upaya itu tidak berhasil.
Sekitar pukul 16:20, wanita tersebut menghubungi pusat dengan keluhan tentang apa yang dia rasakan sebagai nyeri persalinan. Pusat itu sekali lagi berusaha menemukan rumah sakit yang bisa membawanya, tetapi tidak ada yang tersedia, kata para pejabat.
Hingga akhirnya wanita itu melahirkan seorang anak laki-laki sekitar pukul 17:15. Namun, butuh lebih dari 45 menit bagi layanan darurat untuk membawa wanita itu dan bayinya ke rumah sakit. Namun sayangnya, bayi yang baru lahir itu dinyatakan meninggal dunia.
Melansir Asahi, dia mengalami demam, tetapi tidak diizinkan dirawat di rumah sakit karena hanya mengalami gejala ringan. Dia dianggap tidak memenuhi syarat untuk program yang memprioritaskan wanita dengan usia kehamilan minggu ke-36 atau lebih untuk dirawat di RS.
Kejadian ini pun mendapat tanggapan serius dari Gubernur Chiba Toshihito Kumagai. Pada konferensi pers yang digelar pada Kamis, dia menganggap situasi ini sangat serius. "Kami akan mempertimbangkan jenis dukungan apa yang dapat kami berikan dalam kerja sama dengan rumah sakit bersalin dan lainnya," tambahnya melansir Kyodo News.
(wk/zodi)