Epidemiolog Michael Baker menyatakan bahwa tanggapan pandemi di Selandia Baru merupakan 'salah satu yang paling ketat di dunia'. Namun menurutnya masih ada titik lemah dalam tanggapan pandemi Selandia Baru.
- Bertilia Puteri
- Sabtu, 21 Agustus 2021 - 14:36 WIB
WowKeren - Selandia Baru merupakan salah satu negara yang sebelumnya disebut-sebut sukses mengatasi pandemi virus corona (COVID-19). Namun Selandia Baru kini justru menghadapi tantangan terbesarnya selama pandemi karena Varian Delta yang lebih menular.
Populasi orang dewasa di Selandia Baru yang telah mendapatkan vaksinasi COVID-19 secara lengkap baru mencapai 23 persen, sehingga Varian Delta memiliki potensi untuk menyebar ke seluruh negeri. Respons pandemi Selandia Baru sebelumnya memang telah menjadi salah satu yang terbaik di dunia. Namun negara lain kini mengawasi apakah Selandia Baru dapat mengatasi ancaman terbaru tersebut.
Epidemiolog Selandia Baru, Michael Baker, menyatakan bahwa tanggapan pandemi di negara tersebut merupakan "salah satu yang paling ketat di dunia". Namun menurutnya masih ada titik lemah dalam tanggapan pandemi Selandia Baru.
Kelemahan yang paling jelas terlihat dari rendahnya tingkat vaksinasi. Sekitar sepertiga populasi Selandia Baru telah menerima setidaknya satu dosis vaksin COVID-19, dan 19 persen populasi telah menerima vaksinasi lengkap.
Namun di kalangan orang-orang yang belum mendapat vaksinasi terdapat banyak pekerja esensial. Diketahui, tenaga kesehatan dan pekerja perbatasan masuk dalam prioritas vaksinasi, namun staf supermarket dan apotek tidak termasuk dalam prioritas.
"Itu 10 hingga 15% dari populasi tidak dikunci di rumah, mereka tidak dikarantina di rumah, mereka keluar dan berkeliling, menjaga negara tetap bekerja," ujar Baker dikutip dari The Guardian pada Sabtu (21/8).
Selain itu, sejumlah protokol kesehatan masyarakat Selandia Baru juga dirancang pada awal pandemi ketika transmisi virus difokuskan pada droplet dan permukaan. Padahal seiring berjalannya waktu, konsensus ilmiah telah bergeser dan mulai mengaku, misalnya, bahwa COVID-19 dapat bersifat airborne dan berlama-lama, menular, di udara lingkungan dalam ruangan.
Banyak negara lain yang telah mengadaptasi protokol kesehatan mereka dengan temuan tersebut secara bertahap. Misalnya dengan beralih ke budaya pemakaian masker yang hampir universal, atau mengatasi tantangan seperti ventilasi dalam ruangan.
"Ada banyak hal yang mengingatkan kembali pada awal pandemi – penghalang plastik … dan jarak dua meter (di dalam ruangan) – ini adalah hal-hal yang kita pertahankan sejak bagian pertama pandemi," tutur Dr Siouxsie Wiles, salah satu ilmuwan yang menjadi wajah paling terkenal dari komunikasi COVID-19 Selandia Baru. "Dan itu tidak relevan sekarang karena kita tahu bahwa itu (virus) mengudara."
Pemerintah Selandia Baru pekan ini mulai memperkenalkan kebijakan masker dalam ruangan untuk pertama kalinya. Tetapi beberapa "tingkat kewaspadaan" yang lebih rendah masih gagal memperhitungkan penularan melalui udara, dan justru berfokus pada langkah-langkah seperti jarak sosial di dalam ruangan.
Sebagai informasi, Selandia Baru telah menerapkan lockdown nasional sejak Selasa (17/8) malam usai ditemukannya satu kasus COVID-19 pada hari sebelumnya. Pada Jumat (20/8), jumlah kasus COVID-19 di Selandia Baru telah naik menjadi 31 kasus dan tersebar di tiga wilayah, termasuk dua kota terpadatnya.
Pejabat kesehatan telah menerbitkan daftar berisi lebih dari 140 lokasi yang kemungkinan sempat dikunjungi pasien COVID-19. Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern pun mengumumkan pada Jumat kemarin bahwa lockdown level tertinggi tetap akan diterapkan hingga Selasa (24/8).
(wk/Bert)