Bank Dunia Cabut Bantuan, Taliban Lanjut Biayai Afghanistan Pakai Jual Beli Narkoba?
Dunia

Tahun 2020, PBB melaporkan Afghanistan menyumbang hingga 84 persen peredaran opium global, memicu dugaan Taliban akan 'mengeksploitasi' sisi tersebut setelah Bank Dunia mencabut bantuan.

WowKeren - Penguasaan Taliban atas Afghanistan menuai beragam tanggapan dari masyarakat dunia. Salah satunya Bank Dunia yang dengan tegas memutuskan mencabut bantuan untuk Afghanistan.

Bank Dunia berdalih khawatir dengan ditekannya hak-hak asasi, terutama untuk kaum wanita, oleh Taliban di Afghanistan. Sebab ketika Taliban berkuasa tahun 1996-2001 dahulu, kelompok militan itu mendesak wanita untuk mengenakan pakaian tertutup serta tidak boleh bekerja, sekolah, hingga jalan-jalan keluar tanpa ditemani laki-laki.

"Kami sangat khawatir dengan situasi di Afghanistan dan dampaknya terhadap perkembangan negara, terutama untuk wanita," ujar Juru Bicara Bank Dunia, Marcela Sanchez-Bender, kepada CNN. Karena itulah Bank Dunia kemudian seperti "menjatuhkan sanksi" dengan menyetop bantuan untuk Afghanistan.

"Kami sudah menghentikan seluruh operasi kami di Afghanistan," kata Jubir Bank Dunia lain, dikutip dari BBC News, Kamis (26/8). "Dan kami terus memerhatikan dengan cermat, mengakses situasi yang ada agar sejalan dengan kebijakan dan prosedur internal kami."

"Kami sedang mengeksplorasi cara untuk tetap menjaga kemenangan sebelumnya dan melanjutkan dukungan untuk orang Afghanistan," imbuhnya. Sedangkan Bank Dunia sendiri selama ini sudah memberikan USD5,3 miliar untuk rekonstruksi, komitmen finansial USD940 juta dalam berbagai proyek aktif, serta menjanjikan USD1,2 miliar lain lewat program The Afghanistan Reconstruction Trust Fund.


Lantas bila bantuan ini dicabut, dari mana Taliban akan mendapat sumber daya untuk membiayai pemerintahan Afghanistan? Tak pelak pertanyaan ini akan kembali mengingatkan publik dengan bisnis jual beli narkoba yang konon selama ini menjadi "bahan bakar" Taliban.

Mengutip The Conversation yang direpublikasi di UPI, pada akhir 2020 lalu, Taliban melaporkan pendapatan sampai USD1,6 miliar. Padahal pemerintah Afghanistan sendiri menghasilkan USD5,55 miliar di masa yang sama, menunjukkan bahwa Taliban berhasil menghasilkan hingga hampir sepertiga pendapatan negara.

Beberapa sumber kekayaan Taliban termasuk zat adiktif seperti opium. Afghanistan sendiri memang selama lima tahun terakhir menyumbang 84 persen transaksi opium dunia, dengan Taliban mendapatkan pemasukan sampai USD416 juta karenanya.

Beberapa pihak pun menduga Taliban akan kembali menggencarkan transaksi opium ini untuk pembiayaan administrasi negara. "Taliban selama ini bergantung pada jual beli opium sebagai salah satu sumber pemasukan mereka," ujar Kepala Kantor PBB untuk Obat-Obatan dan Kriminal (UNODC) di Kabul, Cesar Gudes, kepada Reuters.

"Produksi lebih tinggi menyebabkan harga akan semakin murah dan menarik sehingga akses penjualan akan lebih luas," imbuh Gudes. "(Penguasaan Taliban) adalah momen terbaik untuk mereka."

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait