AS dan Sekutu Peringatkan  Ancaman Teror Tingkat Tinggi di Bandara Kabul Afghanistan
AP/Wali Sabawoon
Dunia

Untungnya, Bandara Kandahar sendiri telah dibuka kembali, sehingga penerbangan internasional diharapkan masih tetap bisa berjalan meski Bandara Kabul ditutup atau mengalami gangguan.

WowKeren - Amerika Serikat dan sekutunya telah mendesak orang-orang untuk menjauh dari bandara Kabul, Afghanistan, karena ancaman serangan oleh kelompok bersenjata ISIL (ISIS). Peringatan tersebut dirilis pada Rabu (25/8) malam dan Kamis (26/8), saat pasukan Barat bergegas mengevakuasi sebanyak mungkin warga negara asing dan Afghanistan sebelum batas waktu penarikan pada 31 Agustus.

"Mereka yang berada di Gerbang Utama, Gerbang Timur, atau Gerbang Utara sekarang harus segera pergi," demikian peringtaran Departemen Luar Negeri AS yang mengutip adanya ancaman keamanan.

Sementara itu, Departemen Luar Negeri Australia juga mengutip "ancaman serangan teroris yang sedang berlangsung dan sangat tinggi. Mereka meminta orang-orang untuk tidak melakukan perjalanan ke bandara. Hal senada juga disampaikan oleh Kantor Luar Negeri Inggris.

"Jika Anda dapat meninggalkan Afghanistan dengan aman dengan cara lain, Anda harus segera melakukannya," tutur pihak Inggris. "Ada ancaman serangan teroris yang sedang berlangsung dan tinggi."


Melansir Al Jazeera pada Kamis, sekitar 1.500 pemegang paspor AS yang akan dievakuasi masih berada di Kabul. Bandara Kandahar sendiri telah dibuka kembali, sehingga penerbangan internasional diharapkan masih tetap bisa berjalan meski Bandara Kabul ditutup atau mengalami gangguan.

"AS dan Taliban memiliki kesepakatan. Taliban berada di bawah instruksi ketat untuk tidak membiarkan siapa pun masuk tanpa paspor, tanpa kartu hijau, tanpa dokumen terverifikasi, dan ada kebingungan tentang seperti apa dokumen terverifikasi itu," ujar Charlotte Bellis, jurnalis Al Jazeera.

Bellis juga mengungkapkan penerbangan pertama di Bandara Kandahar tiba pada hari ini dengan membawa beberapa staf Doctors Without Borders. Mereka adalah orang pertama yang menerima stempel di paspor mereka dari Islamic Emirate, sebutan Afghanistan menurut terminologi Taliban.

"Jadi, bahkan jika bandara Kabul ditutup atau ada gangguan, ada secercah harapan bahwa masih ada penerbangan internasional yang dimungkinkan melalui bandara Kandahar," ujarnya.

Di sisi lain, krisis kemanusiaan masih saja terus terjadi di negara tersebut. Menurut Program Pangan Dunia (WFP), sekitar 14 juta orang menghadapi kelaparan parah di Afghanistan.

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait