Ilmuwan Afrika Selatan Pantau Varian Baru Virus Corona yang Bermutasi 2x Lebih Cepat
Pxhere
Dunia
Pandemi Virus Corona

Varian ini menarik perhatian para ilmuwan bukan tanpa alasan. C.1.2 rupanya bisa bermutasi dua kali lebih cepat dibanding varian yang ada di dunia saat ini.

WowKeren - Masih relatif sedikit yang diketahui mengenai virus corona penyebab COVID-19. Tak pelak, sejumlah penelitian pun terus dilakukan seiring dengan karakter virus yang terus melakukan mutasi.

Kekinian, ilmuwan Afrika Selatan telah mendeteksi varian virus corona baru. Namun demikian, mereka masih belum menentukan apakah varian ini akan lebih menular atau mampu mengatasi kekebalan yang diberikan oleh vaksin atau infeksi sebelumnya.

Hal itu sebagaimana dikemukakan oleh Institut Nasional untuk Penyakit Menular (NICD). Varian ini diberi nama C.1.2 dan ditandai minggu lalu oleh KwaZulu-Natal Research and Innovation and Sequencing Platform dalam studi pracetak yang belum ditinjau oleh rekan sejawat.

Sejauh ini C.1.2 telah terdeteksi di sembilan provinsi di Afrika Selatan. Sedangkan di bagian lain dunia, virus ini sudah tercatat ada di Tiongkok, Mauritius, Selandia Baru dan Inggris.


Kendati demikian, mereka mengatakan jika untuk saat ini masih terlalu dini untuk menentukan bagaimana virus itu berkembang. C.1.2 "muncul pada tingkat yang sangat rendah" kata mereka.

Varian ini menarik perhatian para ilmuwan bukan tanpa alasan. C.1.2 rupanya bisa bermutasi dua kali lebih cepat dibanding varian yang ada saat ini. Sementara itu, kasus corona di Afrika Selatan sendiri sebagian besar disebabkan oleh varian delta.

Frekuensi C.1.2 boleh dibilang masih relatif rendah. Sejauh ini varian itu telah terdeteksi di kurang dari 3 persen genom yang diurutkan sejak pertama kali diambil pada Mei lalu. Peneliti NICD Penny Moore mengatakan bahwa saat ini pihaknya masih belum bisa mengambil kesimpulan lebih jauh mengenai varian itu.

Terutama mengenai seberapa sensitif virus itu terhadap antibodi manusia. Yang jelas, ia yakin bahwa vaksin yang tengah digencarkan saat ini mampu melindungi dari virus.

"Pada tahap ini, kami tidak memiliki data eksperimental untuk mengonfirmasi bagaimana reaksinya dalam hal sensitivitas terhadap antibodi," ujarnya. "(Tetapi) kami sangat yakin bahwa vaksin yang diluncurkan di Afrika Selatan akan terus melindungi kami dari penyakit parah dan kematian."

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts