Benarkah COVID-19 C.1.2 dari Afrika Selatan Lebih Berbahaya dari Varian Delta? Begini Kata Pakar
Pixabay/Daniel Roberts
Health
Pandemi Virus Corona

Studi atas COVID-19 C.1.2 dari Afrika Selatan terus dikembangkan, apalagi karena muncul dugaan varian ini kebal terhadap vaksin. Lantas benarkah varian C.1.2 lebih berbahaya daripada Delta?

WowKeren - Sejatinya virus memang makhluk yang sangat mudah bermutasi, termasuk SARS-CoV-2 penyebab COVID-19. Namun mutasi ini tidak semua berkembang menjadi varian baru yang meresahkan, meski ada 1-2 jenis yang akhirnya "menguasai" dunia seperti varian Delta yang awalnya berkembang di India.

Varian Delta belum sepenuhnya teratasi, kini dunia dibuat geger dengan varian C.1.2 dari Afrika Selatan. Institut Nasional untuk Penyakit Menular Afsel, jejak C.1.2 sudah dijumpai di semua provinsi negara tersebut, meski dalam skala kecil.

Bahkan dalam sebuah jurnal pra-cetak yang belum diulas rekan sejawat, disebutkan varian virus Corona ini sudah berkembang ke 7 negara di luar Afsel di Afrika, Eropa, Asia, dan Oceania. Belakangan juga beredar kekhawatiran bahwa virus Corona varian C.1.2 akan menyaingi varian Delta dalam "menguasai" dunia. Namun sebenarnya, seberapa berbahaya varian ini?

Institut Penyakit Menular Afsel pertama-tama menegaskan bahwa varian C.1.2 belum masuk ke kategori "Variant of Concern" maupun "Variant of Interest" sesuai standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Namun peneliti membunyikan alarm waspada atas varian C.1.2 karena temuan mutasi kunci yang juga dijumpai di varian meresahkan lain seperti Delta.

"(Varian C.1.2) mengandung beberapa mutasi kunci yang juga kita temui di Variant of Interest maupun Variant of Concern," kata Virolog dari University of Sydney's Central Clinical School, Dr Megan Steain, dikutip pada Rabu (1/9). "Setiap kali kita melihat mutasi baru muncul, kami harus terus memerhatikan sifat apa yang ditimbulkan, misalnya cara virus menghindari respons imun atau mampu menular lebih cepat."

Meski demikian, kesimpulan akhir dari seberapa berbahaya varian C.1.2 dengan temuan mutasi kunci tersebut harus diperiksa cermat di laboratorium. "Mutasi-mutasi yang terjadi bisa saja bersinergi membuat virus yang lebih 'cocok', atau malah lebih lemah. Diperlukan studi lab dengan jangka waktu tertentu, banyak pekerjaan yang harus diselesaikan," jelas Steain.


Menariknya, Steain tak menampik kemungkinan varian C.1.2 ini pada akhirnya malah "kalah pamor" alias tidak berkembang menjadi varian yang meresahkan dunia. Ia lantas menganalogikan dengan varian Beta yang potensial menjadi sangat berbahaya namun nyatanya kalah cepat menular dibandingkan Delta sehingga kini varian yang sangat meresahkan malah Delta.

"C.1.2 bisa jadi cukup baik, cepat, dan cocok untuk 'mengalahkan' Delta di fase ini," ujar Steain, dikutip dari The Guardian. "Tapi kita masih di titik dengan prevalensi (kejadian tersebut) sangat rendah."

Namun meski berbagai kemungkinan soal berbahayanya varian C.1.2 masih bersifat spekulasi liar, Steain tetap mendorong publik untuk waspada. Apalagi karena kemungkinan varian C.1.2 juga tidak akan bisa dihadapi dengan sangat baik oleh vaksin COVID-19 yang dikembangkan saat ini.

"Kami berpikir, mungkin, serum (antibodi yang dihasilkan vaksin) tidak bisa menetralisir sebaik ketika berhadapan dengan varian pendahulunya. Namun sampai kami melakukan eksperimen, ini semua hanya bersifat spekulasi," tegas Steain.

Sedangkan Institut Penyakit Menular Afsel mengaku sudah memahami potensi tersebut dan tengah mempelajari varian C.1.2 sebaik mungkin. Beberapa sifat yang sudah terdeteksi seperti mampu menghindari respons imun alias kebal terhadap vaksin.

"Berdasarkan pemahaman kami terhadap mutasi di varian ini, kami mencurigai (varian C.1.2) mungkin bisa menghindari respons imun. Namun walau demikian, vaksin masih menawarkan tingkat proteksi yang tinggi terhadap tingkat keparahan gejala klinis dan kematian," pungkas Institut Penyakit Menular Afsel.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts