Kandungan Peptida pada Bisa Ular Mematikan dari Brasil Disebut Berpotensi Jadi 'Calon' Obat COVID-19
AFP/Mauricio Lima
Dunia

Molekul peptida yang dihasilkan oleh ular beludak jararacussu disebut ilmuwan mampu menghambat reproduksi virus corona dalam sel monyet hingga 75 persen.

WowKeren - Sejumlah penelitian masih terus dilakukan oleh manusia dalam rangka memahami seluk beluk virus corona. Para peneliti di Brasil menemukan bahwa molekul peptida dalam racun ular yang sangat berbisa dapat menjadi langkah awal yang mungkin untuk mengembangkan obat COVID-19.

Dalam studi yang diterbitkan di jurnal ilmiah Molecules pada bulan Agustus, disebutkan bahwa molekul peptida yang dihasilkan oleh ular beludak jararacussu mampu menghambat reproduksi virus corona dalam sel monyet hingga 75 persen. Jararacussu adalah salah satu ular terbesar di Brasil, berukuran panjang hingga enam kaki (hampir dua meter) dan sangat mematikan.

Penulis studi dan profesor di Universitas Sao Paulo Rafael Guido mengatakan kepada Reuters bahwa kandungan zat itu mampu menghambat perkembangan virus. "Kami dapat melihat bahwa peptida dalam racun tidak hanya menghambat perkembangan virus secara in vitro, di dalam sel," kata Guido.

Kabar baiknya tak cukup sampai di situ. Peptida yang terkandung dalam ular berbisa mematikan itu juga mampu menghambat protein yang berkaitan dengan kemampuan virus untuk berkembang biak.


"Tetapi kami juga dapat melihat di sini di laboratorium," lanjutnya. "Bahwa ia mampu menghambat salah satu protein yang sangat penting bagi kemampuan virus untuk berkembang biak."

Peptida adalah rantai pendek asam amino yang dapat terhubung ke enzim virus corona yang disebut PLPro. Enzim ini sangat penting untuk reproduksi virus corona, tanpa melukai sel lain.

Dalam studi tersebut, para peneliti mencatat bahwa terapi berbasis peptida telah dipelajari secara luas dan dikembangkan untuk mengobati infeksi virus. Guido juga mengatakan bahwa peptida yang dimaksud sudah dikenal karena kualitas antibakterinya.

Kabar baiknya lagi, peptida dapat disintesis di laboratorium. Ini artinya, penangkapan atau pemeliharaan ular tidak perlu dilakukan. Giuseppe Puorto, seorang herpetologis yang menjalankan koleksi biologis Institut Butantan di Sao Paulo khawatir jika orang-orang akan mulai memburu ular ini.

"Bukan itu masalahnya," katanya. Tidak diragukan jika ini penemuan penting. Tapi memburu binatang itu bukan cara tepat menyelesaikan pandemi ini."

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait