Sosial media digegerkan dengan video yang menunjukkan kegiatan pemakaman pemimpin gerakan separatis Kashmir. Hal ini lantas kembali memicu amarah dari masyarakat.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Rabu, 08 September 2021 - 14:56 WIB
WowKeren - Pada pekan lalu, Pemimpin gerakan separatis Kashmir, Syed Ali Shah Geelani meninggal dunia di usia 92 tahun. Pada saat itu, pihak memutus seluruh jaringan internet dan memberlakukan pemadaman komunikasi hampir secara total.
Pasukan keamanan India diketahui menjaga dengan penjaga bersenjata disekitar makam pemimpin separatis Kashmir itu, di tengah meningkatnya kemarahan publik atas rekaman video polisi tentang pemakaman, pemakaman Syed Ali. Sebelumnya, pihak berwenang telah memberi tindakan keras keamanan di wilayah Himalaya yang diperebutkan sejak kematiannya.
Berdasarkan keterangan yang disampaikan oleh putra Syed Ali, Naseem Geelani kepada Al Jazeera, polisi bersenjatan mengambil paksa jenazah ayahnya dan menguburkannya pada tengah malam. "Tidak mengizinkan salah satu dari kami (keluarga) untuk mengambil bagian dalam doa terakhir," terang Naseem.
Akan tetapi, polisi membantah akan pernyataan dari Naseem tersebut. Namun, publik terlanjur marah terhadap mereka usai tersebarnya video yang menunjukkan memandikan jenazah Syed Ali dan kemudian menguburkannya.
Khawatir akan memicu protes di pemakaman, maka makam Syed Ali dijaga ketat oleh pihak keamanan bersenjatan dan melarang pengunjung. Adapun Syed Ali dimakamkan di kota utama Srinagar, Kashmir.
Menanggapi hal tersebut, Ahli Hukum Islam paling senior di satu-satunya wilayah mayoritas Muslim di India, Mufti Nasir ul Islam, menyatakan bahwa pihaknya mengutuk tindakan polisi sebagai "tidak Islami". Kepada kantor berita AFP, ia menyatakan bahwa tubuh orang yang sudah meninggal harus dihormati, bahkan jika jenazah tersebut merupakan orang jahat sekalipun.
"(Jenazah) penjahat yang dijatuhi hukuman mati (harus dihormati)," jelas Mufti. "Saya pikir keluarganya terluka dan orang-orang Kashmir terluka. Polisi harus meminta maaf karena melakukan ini."
Sementara itu, pasukan keamanan kemudian mengeluarkan pernyataan bahwa anak-anak Syed Ali pada awalnya sepakat untuk pemakaman cepat, tetapi tiba-tiba berubah pikiran. "Mungkin di bawah tekanan dari Pakistan dan mulai beralih ke kegiatan anti-nasional," bunyi pernyataan.
Kemudian pasukan keamanan itu membujuk keluarga dan setelah itu, kerabat Syed Ali membawa jenazah ke makam dan melakukan penghormatan terakhir. Namun pihaknya enggan menyebutkan identitas kerabat tersebut.
(wk/tiar)