BPOM Eropa Tambahkan Gangguan Syaraf Langka ke Daftar Efek Samping Vaksin AstraZeneca
Pixabay/Paul McManus
Health
Vaksin COVID-19

BPOM Eropa menyatakan bahwa gangguan neurologis sindrom Guillain-Barre tersebut merupakan efek samping yang 'sangat langka' dan terjadi di bawah satu dari 10.000 orang.

WowKeren - Vaksin COVID-19 AstraZeneca merupakan salah satu jenis vaksin yang kini digunakan di Indonesia. Meski demikian, penggunaan Vaksin AstraZeneca sempat menuai kontroversi karena adanya sejumlah kasus efek samping pembekuan darah yang langka.

Belakangan, Badan Pengawas Obat-Obatan Eropa (EMA) mendaftarkan gangguan syaraf sebagai salah satu efek samping Vaksin COVID-19 AstraZeneca yang "sangat jarang". Efek samping tersebut berupa gangguan neurologis sindrom Guillain-Barre, yang dapat menyebabkan kelumpuhan sementara.

EMA menilai hubungan kausal "dianggap setidaknya sebagai kemungkinan yang masuk akal" usai total 833 kasus sindrom dilaporkan per 31 Juli dari seluruh dunia. Ratusan kasus sindrom Guillain- Barre tersebut dilaporkan dari sekitar 592 juta dosis suntikan Vaksin AstraZeneca "Vaxzevria" yang diberikan.

"Karena itu GBS (Guillain-Barre Syndrome) harus ditambahkan ke informasi produk sebagai efek samping dari Vaxzevria," tulis agensi yang berbasis di Amsterdam tersebut.


Lebih lanjut, EMA menyatakan bahwa sindrom tersebut merupakan efek samping yang "sangat langka" dan terjadi di bawah satu dari 10.000 orang. Di Amerika Serikat, sindrom yang sangat langka tersebut mempengaruhi sekitar 3.000 hingga 6.000 orang setiap tahun dan sebagian besar telah pulih.

Oleh sebab itu, EMA merekomendasikan agar peringatan ditambahkan ke informasi tentang Vaksin AstraZeneca. Peringatan tersebut harus memberitahu penerima vaksin untuk mencari pertolongan medis jika mereka mengalami kelemahan dan kelumpuhan pada ekstremitas yang dapat berkembang ke dada dan wajah.

Pada bulan Juli lalu, EMA juga telah mendaftarkan sindrom Guillain-Barre sebagai efek samping "sangat langka" dari vaksin COVID- 19 Johnson & Johnson. Diketahui Vaksin Johnson & Johnson menggunakan teknologi adenovirus yang sama dengan AstraZeneca.

Sementara Badan Pengawas Obat dan Makanan AS memperingatkan "peningkatan risiko" mengembangkan sindrom neurologis terkait Vaksin Johnson & Johnson. Namun kedua regulator ini menekankan bahwa manfaat vaksin masih lebih besar ketimbang potensi risikonya.

Kesehatan RI menyatakan bahwa dua dosis vaksin AstraZeneca efektif untuk mencegah risiko perawatan rumah sakit akibat varian Delta. "Itu spesifik malah, untuk varian itu (Delta) bisa sampai dengan 92 persen. Bahkan tidak ada kematian akibat mereka yang divaksinasi dengan AstraZeneca ini," ujar Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, pada 27 Juli 2021 lalu.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts