Festival musik hip-hop dan R&B bertajuk Namimonogatari2021 tersebut digelar pada 29 Agustus 2021 lalu di area serba guna Aichi Sky Expo di Tokoname, Prefektur Aichi, Jepang.
- Bertilia Puteri
- Selasa, 14 September 2021 - 20:47 WIB
WowKeren - Festival musik yang diadakan di tempat umum outdoor di Prefektur Aichi, Jepang, dilaporkan menimbulkan klaster COVID-19. Festival musik hip-hop dan R&B bertajuk Namimonogatari2021 tersebut digelar pada 29 Agustus 2021 lalu di area serba guna Aichi Sky Expo di Tokoname.
Per Senin (13/9), pejabat kesehatan Prefektur Aichi mencatat sudah ada 26 peserta festival yang terpapar COVID-19. Jika ditambah dengan orang yang berasal dari Tokyo dan tempat lain, total ada 44 kasus COVID-19 terkait festival tersebut.
Dua hari sebelum acara, prefektur tersebut telah memberlakukan status darurat COVID-19 dari pemerintah pusat. Jumlah maksimum peserta acara tersebut pun ditetapkan menjadi 5.000.
Pejabat prefektuf mengaku telah meminta pihak penyelenggara festival untuk menangguhkan penjualan tiket dan melarang penjualan alkohol di tempat tersebut. Namun permintaan tersebut tak diindahkan, penyelenggara telah menjual dan mendistribusikan 8.000 tiket festival.
Sebelumnya, Gubernur Aichi Hideaki Omura telah menilai langkah pencegahan COVID-19 di festival tersebut tidak cukup. Ia bahkan mengisyaratkan pihak penyelenggara tak akan lagi diberi izin penggunaan fasilitas umum Aichi untuk festival di masa depan.
"Ini sangat bermasalah," kata Omura.
Pemerintah prefektur bersama dengan pemerintah kota Nagoya telah menawarkan tes PCR gratis untuk para hadirin festival tersebut. Sebanyak 1.154 orang telah mengikuti tes tersebut.
Salah seorang pengunjung festival mengungkapkan penyesalannya. Pria berusia 25 tahun yang tinggal di Tokyo tersebut dinyatakan negatif COVID-19, namun merasa dirinya "seharusnya tidak pergi ke festival yang melanggar (aturan COVID-19)".
Ia menceritakan bahwa di dalam venue dengan panggung utama, orang-orang diizinkan untuk bergerak bebas kecuali melalui bagian VIP yang dipasang di kedua sisi panggung. Ia juga mengungkapkan bahwa penjual makanan berjejer di belakang venue dan tersedia minuman beralkohol.
Pria yang berprofesi sebagai seorang pegawai perusahaan tersebut mengaku terus berusaha menjaga jarak 1 hingga 2 meter dari orang-orang di sekitarnya selama berada di festival. Namun ia sering kembali terjebak di tengah keramaian.
"Tidak ada yang salah dengan keputusan itu sendiri," katanya. "Tidak ada cara bagi saya untuk mengetahui seperti apa situasi di venue sampai saya (tiba di sana)"
(wk/Bert)