Penyelidikan menemukan bahwa setidaknya 21 dari 83 tuduhan diajukan terhadap karyawan WHO saat mereka menangani wabah Ebola di negara itu antara 2018 dan 2020.
- Zodiak Yanuarita
- Rabu, 29 September 2021 - 09:35 WIB
WowKeren -
Lebih dari 80 orang di Republik Demokratik Kongo dilecehkan secara seksual oleh pekerja bantuan yang menanggapi wabah Ebola. Beberapa dari mereka ada yang merupakan staf Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Hal tersebut sebagaimana yang diungkapkan oleh hasil penyelidikan independen yang dirilis pada hari Selasa (28/9). Penyelidikan menemukan bahwa setidaknya 21 dari 83 tuduhan diajukan terhadap karyawan WHO saat mereka menangani wabah Ebola di negara itu antara 2018 dan 2020.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus yang mendapat laporan ini pun segera meminta maaf. Sebab, tidak semestinya para pekerja WHO yang seharusnya melayani dan melindungi masyarakat justru melakukan kegiatan tidak terpuji semacam itu.
"Saya minta maaf," kata Ghebreyesus dalam konferensi pers. "Saya minta maaf atas apa yang dilakukan kepada Anda oleh orang-orang yang dipekerjakan oleh WHO untuk melayani dan melindungi Anda."
Ia mengakui bahwa perbuatan keji semacam itu memang tidak bisa dimaafkan. "Apa yang terjadi pada Anda seharusnya tidak pernah terjadi pada siapa pun. Itu tidak bisa dimaafkan," tambahnya.
Lebih jauh, sebagai seorang pimpinan ia akan mengambil tanggung jawab secara menyeluruh terhadap apa yang telah dilakukan oleh anak buahnya itu. Ia menyesalkan kegagalan sistemnya sehingga bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
"Sebagai direktur jenderal, saya bertanggung jawab penuh atas perilaku orang-orang yang kami pekerjakan," tegasnya lagi. "Dan atas segala kegagalan dalam sistem kami yang memungkinkan perilaku ini."
Laporan mencakup 9 tuduhan pemerkosaan dan tuduhan rinci bahwa seks sering ditukar dengan bantuan yang dijanjikan seperti pekerjaan, yang dalam banyak kasus tidak pernah terwujud. Perempuan yang dipekerjakan menghadapi pelecehan seksual terus menerus oleh penyelia laki-laki dan dalam beberapa kasus dipecat ketika mereka menolak.
Dua puluh sembilan wanita dan anak perempuan hamil sebagai akibat dari pelecehan mereka. Beberapa korban mengatakan mereka dipaksa untuk melakukan aborsi dan yang lain mengatakan mereka mengalami keguguran.
(wk/zodi)