Soroti Fenomena Long COVID-19, Begini Penjelasan WHO Dan Para Peneliti
pixabay.com
Health
Pandemi Virus Corona

Sejumlah studi atau penelitian, termasuk di antaranya WHO belakangan ini menyoroti mengenai fenomena long COVID-19. Berikut ini merupakan penjelasan dari hasil studi tersebut.

WowKeren - Pada pekan ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan sebuah definisi mengenai "COVID-19 panjang". Istilah ini diketahui digunakan untuk menggambarkan masalah kesehatan yang terus menerus mempengaruhi beberapa penyintas COVID-19.

Tidak hanya WHO, hal tersebut juga mengundang perhatian dari para ilmuwan atau peneliti yang hingga saat ini masih terus berusaha memahami sindrom COVID-19 panjang atau long COVID-19. WHO mendefinisikannya sebagai suatu kondisi dengan setidaknya satu gejala yang biasanya dimulai dalam kurun waktu tiga bulan sejak dikonfirmasi atau kemungkinan awal dikonfirmasi, bahkan infeksi virus Corona (COVID-19) bertahan setidaknya selama dua bulan dan tidak dapat dijelaskan dengan diagnosis lain.

Menurut WHO, gejala long COVID-19 ini dapat dimulai selama infeksi atau muncul untuk pertama kalinya setelah pasien pulih dari penyakit akut. Adapun di antaranya gejala persisten yang paling umum adalah kelelahan, sesak napas, dan masalah kognitif lainnya termasuk nyeri dada, masalah penciuman dan rasa, kelemahan otot dan jantung berdebar-debar.

Pada umumnya, menurut WHO, lama COVID-19 berdampak pada fungsi sehari-hari. Definisi dari WHO ini disebut bisa berubah ketika ditemukan bukti baru dan pemahaman tentang konsekuensi COVID-19 yang terus berkembang. "Definisi terpisah mungkin berlaku untuk anak-anak," terang WHO.


Sementara itu, sebuah studi dari Universitas Oxford terhadap lebih dari 270 ribu orang yang selamat dari COVID-19, ditemukan paling tidak satu gejala jangka panjang. 37 Persen di antaranya dengan gejala lebih sering dibandingkan dengan orang-orang yang memerlukan rawat inap.

Sebuah hasil studi terpisah yakni dari Universitas Harvard, melibatkan lebih dari 52 ribu penyintas COVID-19 yang infeksinya hanya ringan atau tanpa gejala menunjukkan bahwa kondisi long COVID-19 mungkin lebih sering menyerang pasien di bahwa usia 65 tahun. Berdasarkan perhitungan Reuters, sejauh ini sudah dilaporkan lebih dari 236 juta infeksi yang disebabkan oleh COVID-19.

Sementara mengenai kesembuhan dari long COVID-19 ini disebut bergantung pada proporsi pasien itu sendiri. Setidaknya satu gejala turun dari 68 persen pada 6 bulan menjadi 49 persen pada 12 bulan. Hal ini berdasarkan penelitian yang diterbitkan di Lancet.

Mengenai vaksinasi terhadap long COVID-19, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat menyebutkan bahwa beberapa orang mengalami perbaikan gejala setelah divaksin. Akan tetapi, masih perlu penelitian lebih lanjut untuk menentukan efek vaksinasi yang konkret pada kondisi pasca COVID-19.

(wk/tiar)

You can share this post!

Related Posts