Eks Presiden Myanmar Ungkap Kronologi Jelang Kudeta: Lebih Baik Mati Daripada Setuju Mundur
AFP Photo/Thet Aung
Dunia

Win Myint, sekutu lama Aung San Suu Kyi yang menjadi Presiden Myanmar, ikut dikudeta oleh Junta Militer pada 1 Februari 2021. Kini Win Myint pun mengungkap detik-detik jelang dirinya dikudeta.

WowKeren - Tepat pada 1 Februari 2021 kemarin, junta militer di bawah kepemimpinan Jenderal Min Aung Hlaing melakukan kudeta atas pemerintahan Aung San Suu Kyi. Dua tokoh kunci ditangkap dalam kudeta tersebut, yakni Aung San Suu Kyi dan Presiden Myanmar Win Myint, yang tentu saja kini telah diturunkan paksa dari jabatannya.

Dan dalam kesaksian Win Myint yang disampaikan oleh pengacaranya, Khin Maung Zaw, sang mantan presiden pun mengungkap kronologi kudeta militer tersebut terjadi. Politikus berusia 69 tahun tersebut mengaku didatangi dua jenderal militer pada 1 Februari 2021 dini hari.

"(Mereka) memaksanya (Win Myint) untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden, dengan alasan kesehatan," tutur Khin, dikutip dari AFP pada Rabu (13/10). Namun permintaan dua jenderal militer ini rupanya dimentahkan begitu saja oleh Win Myint.

"Presiden menolak permintaan tersebut, menegaskan bahwa dirinya dalam keadaan sehat. Petugas lalu mengingatkan bahwa penolakan bisa membawa penderitaan yang besar untuknya, namun Presiden bilang beliau lebih baik meninggal daripada setuju (mengundurkan diri)," jelas Khin.


Rupanya aksi "gerilya" petinggi-petinggi militer ini juga dilakukan terhadap pejabat pemerintah lain di Ibu Kota Myanmar, Naypyidaw. Dan benar saja, beberapa jam setelahnya Aung San Suu Kyi, Win Myint, serta petinggi pemerintahan demokrasi Myanmar diciduk junta militer.

Kini baik Win Myint dan Aung San Suu Kyi dihadapkan dengan berbagai tuduhan. Win Myint sendiri menjerat Win Myint dengan tuduhan hasutan serta melanggar protokol kesehatan COVID-19 selama kampanye.

Junta militer, atau secara resmi dikenal sebagai Dewan Administrasi Negara, juga mengancam akan membubarkan Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) yang menaungi Aung San Suu Kyi. Junta militer Myanmar juga tak segan melakukan aksi berdarah untuk melawan para penentang kekuasaannya.

Hal ini terbutki dari kelompok pengawas setempat yang mencatat setidaknya sudah ada seribu warga sipil terbunuh karena memprotes kudeta militer yang dilakukan junta. Sementara baik Win Myint dan Aung San Suu Kyi tidak akan memanggil saksi pembela dalam persidangan hasutan mereka, demikian disampaikan pengacara keduanya pada pekan lalu.

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait