RI Jelang Gelombang Ketiga COVID-19, Bakal Lebih Parah atau Tidak? Ini Kata IDI
AFP
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Ketua Pelaksana Harian Tim Mitigasi PB IDI Mahesa Paranadipa membuka potensi situasi ketika gelombang ketiga wabah COVID-19 menerjang Indonesia, yang diprediksi terjadi akhir 2021.

WowKeren - Pengendalian wabah COVID-19 di Indonesia memang telah berangsur membaik, bahkan Bali sudah bersiap menyambut kedatangan turis internasional mulai Kamis (14/10) besok. Namun pakar kesehatan berkali-kali mengingatkan potensi terjadinya gelombang ketiga wabah COVID-19.

Berbagai prediksi menyebut gelombang ketiga wabah COVID-19 mungkin tiba pada akhir 2021 atau awal 2022. Lalu bagaimana kondisi Indonesia saat gelombang ketiga itu tiba? Akankah lebih buruk daripada gelombang kedua yang menerjang pertengahan 2021 kemarin?

Ketua Pelaksana Harian Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Mahesa Paranadipa pun memberikan pendapatnya mengenai hal tersebut. Ia sendiri memprediksi gelombang ketiga COVID-19 akan tiba di Indonesia pada akhir tahun 2021 ini.

Kedatangan gelombang ketiga wabah COVID-19 ini bisa terjadi karena kondisi libur panjang pada akhir 2021. Prediksi ini pun dihimpun dari kondisi yang pernah terjadi di Indonesia sebelumnya, maupun teori-teori pakar yang dihimpun IDI.


Sedangkan terkait keparahannya, ternyata menurut Mahesa tidak akan separah gelombang sebelumnya. "Gelombang ketiga tidak lebih parah dari gelombang pertama dan kedua, karena dengan cakupan vaksinasi," tutur Mahesa dalam sebuah diskusi virtual, dikutip dari Viva pada Rabu (13/10).

Dijelaskan Mahesa, laju vaksinasi COVID-19 saat ini terus dipercepat. Saat ini sudah 100 juta orang menerima dosis pertama, atau sekitar 48,11 persen dari target vaksinasi 208 juta orang.

"Untuk yang vaksinasi dosis kedua masih 70 persen, diharapkan ini bisa meningkat," lanjut Mahesa. Meski demikian, Mahesa tak ingin menampik capaian Indonesia terutama dalam menurunkan positivity rate atau risiko penularan COVID-19, yakni hingga di bawah standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yakni lima persen.

"Dengan positivity rate di bawah 5 persen, ini dalam sejarah pandemi kita belum pernah di bawah 5 persen. Terkait dengan kapasitas 3T terkait testing, tracing, dan treatment yang masih belum mencapai standar WHO, ini jadi catatan bagi semua pihak khususnya kepala-kepala daerah diharapkan sesuai standar WHO," pungkas Mahesa.

Sebelumnya Ketua Pelaksana Program Pendampingan Keluarga Pasien COVID-19 RSLI, Radian Jadid mengungkap pula 7 pemicu terjadinya gelombang ketiga wabah COVID-19. Jadid mendorong masyarakat untuk lebih waspada demi meminimalisir risiko serta dampak yang bisa timbul dari datangnya gelombang ketiga wabah tersebut.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts