Libur Nataru Bisa Picu Gelombang Ketiga COVID-19, RI Siapkan 6 Cara Antisipasi
AP Photo/Oded Balilty
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Jubir Satgas COVID-19, Reisa Broto Asmoro, membeberkan langkah-langkah antisipatif pemerintah Indonesia menyusul libur Maulid Nabi Muhammad SAW, Natal, dan Tahun Baru yang tiba sebentar lagi.

WowKeren - Turunnya wabah COVID-19 di Indonesia, yang diikuti dengan berbagai pelonggaran pembatasan, membuat pakar berkali-kali mengingatkan soal potensi terjadinya gelombang ketiga. Ada yang memprediksi akan tiba pada akhir 2021, atau awal 2022, namun yang pasti semua memperkirakan gelombang ketiga akan tiba karena adanya libur panjang akhir tahun.

Yang dimaksud adalah libur Natal 2021 dan Tahun Baru 2022. Sedangkan di sisi lain, pekan depan, Indonesia akan memasuki masa libur peringatan Hari Maulid Nabi Muhammad SAW 1443 H yang sampai digeser sehari demi mencegah terjadinya long weekend.

Dengan potensi terjadinya gelombang ketiga akibat tanggal merah ini, apakah pemerintah telah menyiapkan langkah antisipasi? Ditegaskan Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19 dr Reisa Broto Asmoro, pemerintah rupanya sudah mengantisipasi potensi terjadinya lonjakan kasus COVID-19 akibat libur Maulid Nabi, Natal, dan Tahun Baru.

Reisa menyebut, pemerintah belajar dari pengalaman sebelumnya di mana perayaan hari besar keagamaan serta libur panjang cenderung menyebabkan lonjakan kasus COVID-19. Hal ini pun tak lepas dari naiknya mobilitas masyarakat selama masa-masa libur tersebut.

"Menjelang Maulid, libur Natal, dan Tahun Baru, beberapa upaya yang akan dan sedang dilakukan, yakni antara lain," ujar Reisa dalam konferensi persnya, Rabu (13/10). "Yang pertama memastikan pelonggaran aktivitas diikuti pengendalian lapangan yang ketat."


Pemerintah sendiri telah menyiapkan setidaknya 5 langkah lain di samping mengendalikan kondisi di lapangan di tengah pelonggaran pembatasan. Yang kedua adalah dengan meningkatkan laju vaksinasi COVID-19 pada lansia, terutama di wilayah aglomerasi serta pusat pertumbuhan ekonomi.

Tujuannya adalah agar angka kematian dan perawatan pasien di rumah sakit bisa ditekan apabila gelombang wabah COVID-19 berikutnya datang. Lalu langkah berikutnya adalah dengan mempercepat laju vaksinasi COVID-19 untuk anak-anak, sehingga imunitas mereka sudah terbentuk saat hari libur panjang tiba.

Pemerintah juga mengantisipasi mobilitas pelaku perjalanan internasional, terutama karena Bali sudah membuka pintu untuk turis asing mulai Kamis (14/10) hari ini. Sedangkan langkah kelima adalah dengan mendorong pemerintah daerah agar serius mengawasi kegiatan masyarakat serta mengedukasi masyarakat di daerah terkait rincian protokol kesehatan.

"Dan yang keenam, pemerintah juga terus mendorong masyarakat Indonesia untuk tetap patuh prokes," imbuh Reisa, dikutip pada Kamis (14/10). "Agar kasus menurun COVID-19 di Indonesia dapat konsisten."

Disiplin protokol kesehatan, ditekan Reisa, tetap menjadi kunci utama agar tidak terjadi kenaikan level asesmen Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Serta masyarakat didorong untuk divaksin sebelum mengikuti agenda-agenda dengan kerumunan besar atau berlibur, serta tetap memakai masker saat di ruang publik.

"Pandemi masih ada. Virusnya masih mengintai kita. Namun dengan vaksinasi, masker, dan persiapan yang baik kita akan dapat menekan risiko jadi serendah mungkin," pungkas Reisa menegaskan.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts