Mencuat Isu Bikin Keguguran Dan Tak Bisa Hamil, Wanita Di Afrika Tak Mau Divaksinasi COVID-19
https://www.afro.who.int/
Dunia
Vaksin COVID-19

Isu-isu tidak benar mengenai dampak vaksinasi COVID-19 ini tampaknya juga mencuat di Afrika. Hal ini tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah Afrika untuk melaksanakan vaksinasi.

WowKeren - Vaksinasi COVID-19 saat ini menjadi hal prioritas dalam penanganan pandemi di banyak negara dunia. Setiap negara berlomba-lomba untuk bisa segera menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada seluruh masyarakatnya.

Akan tetapi, di Afrika, dalam pelaksanaan vaksinasi COVID-19 kepada masyarakatnya mengalami kendala, khusunya terhadap penduduk wanita. Di tengah upaya pemerintah untuk melaksanakan percepatan vaksinasi COVID-19, mencuat isu bahwa vaksinasi bisa menyebabkan keguguran, bahkan tidak dapat hamil.

Isu tersebut benar-benar menjadi ketakutan tersendiri bagi para wanita di Afrika lantaran taraf keberhasilan dalam pernikahan dinilai dari banyaknya jumlah anak yang dimiliki. Selain itu, tidak sedikit juga yang mengatakan lebih takut divaksin daripada dengan virus COVID-19. Dengan efek vaksin seperti demam, menurut mereka hal tersebut tidak bisa diterima karena harus bekerja.

Melansir AP News, dengan ketakutanyang luar biasa menyelimuti wanita di Afrika ini, tingkat vaksinasi COVID-19 baru mencapai kurang dari 4 persen. Meski berdasarkan data tentang perincian gender itu masih kurang secara global, tetapi para ahli menilai bahwa semakin banyak wanita di Afrika yang tidak mau divaksinasi COVID-19.


Di sisi ketakutan pemerintah Afrika yang mengeluhkan kesenjangan vaksin COVID-19 antara negara miskin dan kaya, kini juga dikhawatirkan akan wanita yang tidak mau divaksin. Hal ini disebut telah terjadi selama satu tahun sejak pandemi masuk ke Afrika.

"Kami melihat, sayangnya, bahkan ketika vaksin COVID-19 di Afrika setelah penundaan yang lama, perempuan tertinggal," terang Dr. Abdahalah Ziraba seorang ahli Epidemiologi di Pusat Penelitian Kependudukan dan Kesehatan Afrika. "Ini bisa berarti mereka akan menderita lebih banyak korban selama pandemi."

Para pejabat menyebut bahwa penyebaran informasi yang salah tentang vaksinasi COVID-19 itu sebagian besar harus disalahkan atas kesenjangan gender. Selain itu, keterlambatan dalam mendapatkan vaksin COVID-19 ke negara-negara miskin juga memungkinkan informasi yang salah berkembang. Bahkan di desa-desa terpencil di mana hanya sedikit yang memiliki ponsel pintar.

Sementara itu, mengenai isu bahwa vaksin COVID-19 menyebabkan keguguran dan tidak bisa hamil itu telah dinyatakan tidak ada bukti yang menguatkan. Bahkan, Pusat Pengendalian dan Pencegaha Penyakit Amerika Serikat (AS) (CDC), Organisasi Kesehatan Dunia, dan lembaga lainnya, malah merekomendasikan wanita hamil untuk segera divaksin.

(wk/tiar)

You can share this post!

Related Posts