Kelompok HAM Myanmar Kecam Tindakan Junta Militer Kepada Masyarakat Beragama Kristen
https://www.aljazeera.com/
Dunia

Junta militer Myanmar melakukan penyerangan terhadap gereja-gereja yang ada di negara tersebut. Hal ini lantas memicu reaksi keras dari kelompok HAM Myanmar.

WowKeren - Kudeta Myanmar yang dilakukan oleh junta militer sejak Februari lalu, hingga kini belum juga berakhir. Bahkan tindakan militer Myanmar semakin tidak berperikemanusiaan.

Pada bulan lalu, tentara Myanmar diketahui menembak mati seorang pendeta yakni Cung Biak Hum. Cung Biak merupakan seorang pendeta Baptis berusia 31 tahun. Pada saat itu, ia hendak membantu kekacauan yang diakibatkan penembakan oleh tentara Myanmar, akan tetapi ia akhirnya juga menjadi korban.

Setelah ditembak oleh tentara Myanmar, mereka menggergaji jari pendeta dan mencuri cincin kawinnya. Hal ini lantas mendapat kecaman dari kelompok Hak Asasi Manusia (HAM) Myanmar.

"Pembunuhan Cung Biak Hum dan pemotongan jarinya menunjukkan tingkat ketidakhormatan dan kebrutalan yang dilakukan tentara militer Myanmar dalam perang mereka yang sedang berlangsung melawan rakyat," terang Salai Za Uk Ling selaku Wakil Direktur HAM Chin Organisasi kepada Al Jazeera, Kamis (14/10).


Pada insiden yang terjadi pada 19 September 2021 itu, merupakan salah satu dari setidaknya 20 kasus yang didokumentasikan oleh kelompok HAM dan media lainnya, di mana gereja-gereja Kristen, pemimpin gereja dan sukarelawan telah menjadi sasaran atau terperangkap dalam baku tembak militer. Adapun insiden itu di antaranya yakni penembakan gereja, penahanan pendeta, dan penggunaan gereja sebagai pangkalan militer.

"Gereja-gereja sekarang kosong dan sepi," ungkap seorang pemimpin Gereja Katholik di Negara Bagian Kayah yang tidak ingin disebutkan identitasnya. "Ketakutan ditanamkan di hati orang-orang, bahkan gereja pun tidak aman dari serangan."

Mengenai peristiwa tersebut, Juru Bicara (Jubir) Militer Mayor Jenderal Zaw Min Tun enggan memberikan tanggapan. Bebrbagai upaya untuk bisa menghubunginya pun menemukan "jalan buntu".

Sementara itu, pada bulan Mei lalu, militer Myanmar telah mengakui perbuatannya yang menyerang gereja-gereja di Kayah, termasuk di antaranya gereja Katholik di mana menembakkan artileri yang menewaskan 4 orang. Adapun alasan penyerangan itu, disebutkan lantara dinilai sebagai "pemberontak lokal".

(wk/tiar)

You can share this post!

Related Posts