Makin Parah, RS Singapura Terancam Kewalahan Akibat Lonjakan COVID-19
AP
Dunia

Kementerian Kesehatan Singapura mencatatkan 18 kematian akibat COVID-19 dalam sehari pada Rabu (20/10), angka tertinggi selama pandemi. Singapura juga melaporkan 3.862 kasus COVID-19 harian pada Rabu.

WowKeren - Pejabat pemerintah Singapura memperingatkan bahwa sistem perawatan kesehatan negara tersebut berisiko "kewalahan" akibat lonjakan COVID-19. Kementerian Kesehatan Singapura mencatatkan 18 kematian akibat COVID-19 dalam sehari pada Rabu (20/10), angka tertinggi selama pandemi.

Singapura juga melaporkan 3.862 kasus COVID-19 harian pada Rabu, hanya sedikit dari rekor 3.994 kasus pada Selasa (19/10). "Pada situasi saat ini, kami menghadapi risiko besar sistem perawatan kesehatan kewalahan," kata Lawrence Wong, salah satu ketua gugus tugas pemerintah memerangi COVID-19.

Wong yang juga menjabat sebagai Menteri Keuangan mengatakan hampir 90 persen tempat tidur isolasi di rumah sakit telah terisi. Selain itu, lebih dari dua pertiga tempat tidur ICU juga telah terisi.

Adapun pernyataan Wong ini dirilis sehari setelah Singapura memperluas perjalanan bebas karantina untuk penumpang yang divaksinasi penuh dari delapan negara. Di antaranya adalah mitra dagang utama mereka, yakni Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis.


Menurut Perdana Menteri Lee Hsien Loong, pusat bisnis global tidak dapat tetap ditutup tanpa batas waktu. Oleh sebab itu, Singapura telah bergeser dari strategi tanpa toleransi dengan lockdown dan penutupan perbatasan, menjadi pendekatan "hidup dengan COVID-19".

Para analis menilai bahwa skema jalur perjalanan tersebut dapat memberikan peluang bagi industri penerbangan dan pariwisata yang dilanda pandemi. Namun di saat yang bersamaan, hal itu juga menimbulkan ketakutan di antara beberapa warga Singapura biasa saat kota itu bergulat dengan wabah terbarunya.

"Kami mencoba menambah kapasitas, tetapi ini bukan hanya soal memiliki tempat tidur tambahan atau membeli peralatan baru karena… tenaga medis kami kewalahan dan kelelahan," papar Wong. "Dan sementara kami mencoba untuk memperkuat tim, akan butuh waktu untuk bala bantuan ini masuk."

Di sisi lain, Wakil Ketua Gugus Tugas sekaligus Menteri Kesehatan, Ong Ye Kung, mengatakan jumlah infeksi di antara orang yang tidak divaksinasi berusia 60 tahun ke atas masih terus tinggi. Dua pertiga pasien di ICU masuk dalam kelompok tersebut.

Secara kumulatif, Singapura telah melaporkan lebih dari 158.000 kasus positif dan 264 kematian COVID-19. Lonjakan infeksi COVID-19 yang terjadi setelah pelonggaran beberapa pembatasan telah mendorong Singapura untuk menghentikan pembukaan kembali lebih lanjut.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts