Studi Pfizer Ungkap Vaksin Booster Tingkatkan Antibodi Lawan COVID-19 Delta
AP Photo/Lynne Sladky
Dunia
Vaksin COVID-19

Pfizer-BioNTech menggelar uji klinis terkait efikasi vaksinasi dosis ketiga alias booster terhadap COVID-19 Delta. Dan terungkap booster Pfizer menunjukkan kekebalan yang optimal.

WowKeren - Hingga kini tidak ada vaksin COVID-19 yang memiliki tingkat kemanjuran 100 persen melawan virus Corona. Tingkat antibodi respons dari vaksin ini pun berkurang seiring dengan berjalannya waktu, dan diperburuk apabila ada paparan varian baru virus Corona seperti Delta.

Penelitian mengungkap tingkat antibodi ini bisa kembali diperkuat apabila menerima suntikan dosis ketiga alias booster. Pfizer-BioNTech sebagai salah satu pengembang vaksin COVID-19 ini pun menggelar penelitian untuk melihat tingkat efikasi pasca penyuntikan vaksin dosis ketiga.

Dan rupanya, hasil uji fase III menunjukkan vaksin booster Pfizer-BioNTech menunjukkan tingkat efikasi yang tinggi, termasuk untuk melawan virus Corona varian Delta. Tingkat efektivitas melawan penyakit ini, menurut hasil studi, mencapai 95,6 persen yang diukur saat varian Delta sangat mendominasi kemarin.

Uji klinis fase III ini digelar dengan 10 ribu partisipan dengan rentang usia 16 tahun ke atas. Tingkat keamanan vaksinasi dosis booster ini pun tergolong baik, atau dengan kata lain tidak membahayakan penerima dengan kondisi atau komorbid tertentu.


Pfizer-BioNTech menyebut rata-rata penyuntikan dosis booster ini adalah sekitar 11 bulan setelah menerima dosis kedua. Seperti penelitian pada umumnya, partisipan dibagi dalam dua kelompok yakni yang menerima vaksin booster Pfizer-BioNTech serta yang menerima plasebo atau kelompok kontrol.

Dan hasilnya, hanya sekitar 5 kasus COVID-19 yang ditemukan di kelompok penerima booster. Sedangkan di kelompok kontrol ditemukan 109 kasus positif COVID-19.

"Hasil ini memberikan bukti lebih lanjut tentang manfaat booster," terang CEO Pfizer, Albert Bourla, dalam keterangannya, dikutip pada Kamis (21/10). "Karena kami bertujuan untuk membuat orang terlindungi dengan baik dari penyakit ini."

Tentu saja temuan ini membawa "angin segar" karena penelitian juga mengungkap tingkat efikasi vaksin berkurang dari 96 ke 84 persen dalam 4 bulan setelah menerima suntikan dosis kedua. Pfizer-BioNTech akan menyerahkan hasil detail penelitian ini untuk diulas rekan sejawat sebelum dipublikasikan secara ilmiah, kemudian kepada Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA), BPOM Eropa, serta berbagai BPOM negara lain.

Vaksinasi booster kini memang menjadi alternatif untuk melawan wabah COVID-19. Yang terbaru, FDA dan BPOM Eropa sudah menurunkan izin untuk "pencampuran" vaksin Pfizer-BioNTech dengan Moderna sebagai booster-nya.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts