Salon Kecantikan Jadi Satu-satunya 'Surga' Bagi Kaum Perempuan Afghanistan di Bawah Ancaman Taliban
pixabay.com/Ilustrasi/Engin_Akyurt
Dunia

Salon itu menjadi tempat bagi para wanita untuk bisa bersantai di luar rumah dan berbagi kelu-kesah mereka atau melupakannya untuk kesenangan maupun tampil modis.

WowKeren - Sejak Taliban merebut Kabul pada pertengahan Agustus lalu, banyak wanita telah menghilang dari ruang publik. Mereka terpaksa harus tetap berada di area pribadi lantaran takut akan ancaman Taliban.

Kendati demikian, masih ada satu tempat yang bisa menjadi lokasi bagi kaum wanita untuk bisa bertemu dan bersantai. Adalah salon kecantikan milik Ms Mohadessa yang saat ini tetap beroperasi meskipun ada ancaman dari penguasa baru Afghanistan.

Di salon itu, para wanita bisa bersantai di luar rumah dan berbagi kelu-kesah mereka atau melupakannya demi kesenangan dan mode. Mohadessa mengatakan kepada AFP bahwa ia senang bisa tetap menjalankan salonnya itu.

Sebab selain bisa memberikan kesenangan bagi klien, keberadaan salonnya juga tak dapat dipungkiri bisa menjadi lahan lapangan kerja bagi wanita di sana.


"Kami tidak ingin menyerah dan berhenti bekerja," kata pengusaha itu. "Kami senang bahwa kami memiliki pekerjaan, dan perempuan perlu bekerja di masyarakat Afghanistan, banyak dari mereka adalah pencari nafkah bagi keluarga mereka."

Terakhir kali Taliban memerintah Afghanistan, antara tahun 1996 dan intervensi pimpinan AS tahun 2001, wanita diwajibkan mengenakan burqa yang menutupi semua bagian tubuh. Di bawah penerapan hukum yang mereka lakukan, salon kecantikan dilarang.

Yang lebih mengerikan lagi adalah bahwa wanita yang mengecat kukunya untuk tampil lebih feminin harus siap menghadapi risiko jarinya akan dipotong. Tetapi sejak Taliban kembali ke ibu kota dan mendeklarasikan Imarah Islam mereka, kelompok itu bersusah payah untuk menghadirkan wajah yang lebih liberal kepada dunia.

Mereka memilih untuk tidak terburu-buru menerapkan kembali pembatasan sehari-hari. Pasalnya, kelompok militan tersebut ingin terlebih dahulu mengamankan keuangan internasional untuk mencegah bencana ekonomi yang dapat merusak keuntungan perang mereka.

"Saya bisa mengatakan bahwa wanita di salon ini berani karena mereka datang untuk bekerja dengan rasa takut. Setiap hari mereka membuka salon, mereka masuk, dan mereka terus bekerja, terlepas dari ketakutan ini," lanjut Mohadessa.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts