Kunjungan kerja oleh Presiden Joko Widodo kali ini adalah yang pertama kali dilakukan saat pandemi COVID-19. Menariknya, Jokowi malah naik pesawat Garuda Indonesia.
- Elvariza Opita
- Jumat, 29 Oktober 2021 - 15:03 WIB
WowKeren - Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan kerja ke 3 negara sekaligus mulai Jumat (29/10) hari ini. Jokowi dijadwalkan melawat ke Italia, Inggris, dan Uni Emirat Arab (UEA), lalu baru tiba lagi di Indonesia pada 5 November 2021.
Kunker ke luar negeri ini merupakan yang pertama kali di masa pandemi COVID-19. Menariknya, Jokowi memilih untuk menggunakan pesawat Garuda Indonesia ketimbang menaiki pesawat kepresidenan.
Pemakaian pesawat komersial ini pun malah menuai apresiasi dari Menteri BUMN Erick Thohir. Erick yang turut mendampingi dalam kunker menilai pemilihan Garuda untuk mengantarkan Jokowi menunjukkan bahwa maskapai nasional tersebut memiliki kualitas protokol kesehatan yang mumpuni.
"Sebuah kehormatan tentunya bagi Garuda yang menjadi moda transportasi udara pertama yang digunakan Presiden dalam lawatan luar negeri pertamanya di masa pandemi. Ini membuktikan kualitas protokol kesehatan yang sangat baik. Apresiasi untuk seluruh awak Garuda," kata Erick lewat keterangan tertulisnya, Jumat (29/10).
Jarak tempuh perjalanan pun menjadi pertimbangan lain mengapa Jokowi lebih memilih menggunakan pesawat Garuda. Pasalnya perjalanan kali ini memerlukan pesawat dengan kemampuan jarak tempuh yang jauh, yang dimiliki oleh pesawat Garuda tipe Boeing 777-300ER.
Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono menerangkan, pemilihan pemakaian Garuda sudah dipertimbangkan secara matang. Baik mempertimbangkan efisiensi waktu, penghematan anggaran, hingga protokol kesehatan.
"Dengan menggunakan pesawat berbadan lebar ini, perjalanan menuju Roma selama 13 jam ini bisa dilakukan langsung tanpa perlu transit. Bila kita menggunakan Pesawat Kepresidenan BBJ, kita harus transit," terang Heru.
"Dan ingat, ini adalah kunjungan kerja pertama Bapak Presiden ke luar negeri di masa pandemi, kami harus sangat berhati-hati dalam menjalankan protokol kesehatan," imbuhnya. "Termasuk pertemuan tatap muka di saat transit."
Bila harus melakukan transit misalnya, maka protokol kesehatan untuk seluruh rombongan pun harus diperhatikan termasuk sterilisasi ruang tunggu hingga tes PCR dan penyediaan makanan-minuman. Sedangkan alasan lain adalah efisiensi anggaran di mana terdapat beberapa menteri yang ikut dalam perjalanan tersebut.
(wk/elva)