Pfizer mengatakan akan meminta FDA dan regulator internasional untuk mengesahkan pilnya secepat mungkin. Jika diizinkan, perusahaan akan menjual obat dengan nama merek Paxlovid.
- Zodiak Yanuarita
- Jumat, 05 November 2021 - 20:18 WIB
WowKeren - Selain vaksin, perusahaan farmasi terus berinovasi untuk menghasilkan obat yang bisa menyembuhkan COVID-19 yang lebih praktis. Baru-baru ini, diumumkan bahwa Inggris telah menjadi negara pertama yang telah menyetujui pil molnupiravir buatan Merck yang secara aktif mengobati infeksi COVID-19 pada Kamis (4/11).
Namun rupanya, Merck bukan satu-satunya perusahaan farmasi yang menjajakan pil sebagai obat oral untuk mengatasi COVID-19. Pfizer Inc. mengatakan pada hari Jumat (5/11) bahwa pil antivirus eksperimentalnya ampuh mengurangi tingkat rawat inap dan kematian hampir 90 persen pada orang dewasa yang berisiko tinggi.
Saat ini semua perawatan COVID-19 yang digunakan di AS memerlukan suntikan. Pil COVID-19 dari pesaingnya, Merck, sudah ditinjau oleh Food and Drug Administration setelah menunjukkan hasil awal yang kuat.
Pfizer mengatakan akan meminta FDA dan regulator internasional untuk mengesahkan pilnya secepat mungkin, setelah para ahli independen merekomendasikan penghentian studi perusahaan setelah mendapatkan hasil yang kuat. Setelah Pfizer mengajukan izin, FDA dapat membuat keputusan dalam beberapa minggu atau bulan setelahnya.
Nantinya jika diizinkan, perusahaan akan menjual obat dengan nama merek Paxlovid. Para peneliti di seluruh dunia telah berlomba untuk menemukan pil anti COVID-19 untuk meringankan gejala dan mempercepat pemulihan.
Pada Jumat, Pfizer telah merilis hasil awal dari studinya terhadap 775 orang dewasa. Pasien yang menerima obat buatannya bersama dengan antivirus lain yang menunjukkan gejala COVID-19 mengalami penurunan 89 persen dalam tingkat gabungan rawat inap atau kematian setelah sebulan, dibandingkan dengan pasien yang menggunakan pil dummy.
Hanya kurang dari 1 persen pasien yang mengonsumsi obat itu perlu dirawat di rumah sakit dan tidak ada yang meninggal. Pada kelompok pembanding, 7 persen dirawat di rumah sakit dan ada tujuh kematian. Dr. Mikael Dolsten, kepala petugas ilmiah Pfizer, sangat membanggakan pil tersebut.
"Kami berharap bahwa kami memiliki sesuatu yang luar biasa," ujarnya. "Tetapi jarang Anda melihat obat hebat yang memiliki hampir 90 persen kemanjuran dan perlindungan 100 persen terhadap kematian."
(wk/zodi)