Selama sekitar 20 bulan terakhir, AS memutuskan untuk menutup perbatasan dan perjalanan internasional sebagai upaya menekan laju penyebaran COVID-19. Kini AS telah kembali membuka pembatasan tersebut.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Senin, 08 November 2021 - 13:49 WIB
WowKeren - Selama pandemi COVID-19 berlangsung di Amerika Serikat (AS), pemerintah menerapkan sejumlah kebijakan. Salah satunya adalah pembatasan atau penutupan perjalanan internasional.
AS diketahui telah menutup pembatasan perjalanan darat dan udara sekitar 20 bulan lamanya. Namun kini, AS akhirnya telah kembali membuka pembatasan tersebut, termasuk juga bagi pelaku perjalanan internasional yang sudah divaksinasi COVID-19 penuh. Pembukaan pembatasan ini disampaikan AS pada Senin (8/11).
Adapun kebijakan tersebut sebelumnya diberlakukan oleh mantan Presiden AS Donald Trump pada awal 2020, kemudian ditegakkan oleh penggantinya yakni Joe Biden. Kebijakan ini diketahui memicu banyak kritikan dari publik dan menjadi simbol pergolakan yang disebabkan oleh pandemi COVID-19.
Pembatasan yang dilakukan oleh AS itu tidak sejalan dengan kebijakan di Eropa dan negara tetangganya, Kanada dan Meksiko. Dalam upaya pembatasan untuk memperlambat penyebaran COVID-19, AS telah menutuk perbatasan sejak Maret 2020 untuk pelancong dari sebagian besar dunia, termasuk Uni Eropa, Inggris, Tiongkok, India, dan Brasil. Kemudian pengunjung dari Meksiko dan Kanada pun juga dilarang memasuki AS.
Selama kebijakan pembatasan di AS selama berbulan-bulan itu, juga mempengaruhi kehidupan perekonomian masyarakatnya. Ratusan juta orang pun turut menjadi korban penderitaan pribadi dan ekonomi yang disebabkan oleh pandemi COVID-19. "Ini sangat sulit, aku hanya ingin melihat anakku" terang Ms Alison Henry (63) kepada AFP.
Mengetahui AS telah kembali membuka perjalanan dan pembatasan, wanita Inggris itu pun berencana untuk melihat putranya di New York, setelah 20 bulan berpisah. Hal ini telah dinantikannya untuk bisa bersatu kembali dengan orang-orang yang mereka cintai, khususnya keluarga.
Meski perjalanan dari AS ke Eropa telah dimungkinkan sejak musim panas, tetapi penduduk asing AS yang telah memiliki visa tertentu tidak ada jaminan untuk bisa kembali ke negara tersebut. Maka dari itu, untuk mengatasi lonjakan permintaan, pihak maskapai penerbangan telah meningkatkan jumlah penerbangan transatlantik dan berencana menggunakan pesawat yang lebih besar, saat mereka keluar dari krisis pandemi.
(wk/tiar)