Jurnalis Danny Fenster akhirnya dipulangkan ke AS setelah 6 bulan ditahan karena diduga terkait dengan media yang dianggap memberontak junta militer Myanmar dan didakwa 11 tahun penjara karenanya.
- Elvariza Opita
- Selasa, 16 November 2021 - 15:09 WIB
WowKeren - Jurnalis Amerika Serikat Danny Fenster sempat menyita perhatian karena secara mendadak dijerat dengan tuduhan terorisme dan penghasutan. Sebelumnya Fenster pun telah dipenjara karena diduga terlibat dengan media yang dicap pemberontak, Myanmar Now.
Atas kasus yang pertama menjeratnya, Fenster sempat didakwa dengan 11 tahun penjara. Tak pelak semakin banyak pihak yang menuntut pembebasan Fenster, apalagi karena sang jurnalis sudah meninggalkan Myanmar Now jauh sejak sebelum junta militer berkuasa.
Desakan pembebasan Fenster ini pun akhirnya dikabulkan junta militer Myanmar. Sehingga pada Senin (15/11) waktu setempat, Fenster sudah dalam perjalanan ke negaranya setelah 6 bulan ditahan di penjara Insein Yangon yang terkenal kejam.
Fenster yang dijumpai wartawan saat transit di Doha, Qatar hanya mampu mengungkap kebahagiaannya bisa kembali ke AS. "Saya sangat bahagia bisa pulang lagi," ujar Fenster yang didampingi mantan Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB / UN) Bill Richardson.
Pembebasan Fenster tak bisa dilepaskan dari peran Richardson yang secara pribadi bertemu dengan pimpinan junta militer Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing. Meski membawa hasil baik berupa pembebasan Fenster, keterlibatan Richardson yang dilabeli sebagai "misi kemanusiaan" tersebut sempat diwarnai pro-kontra karena dianggap mengesahkan pemerintahan junta militer.
Di sisi lain, Fenster menegaskan bahwa pihaknya tidak akan berhenti menyoroti nasib rekan-rekan jurnalisnya di Myanmar. Fenster berharap para jurnalis lokal tersebut bisa segera dibebaskan.
"Kami akan tetap fokus pada mereka sebanyak mungkin dan melakukan segala yang kami bisa untuk melobi atas nama mereka," tegas Fenster. "Kami masih berusaha sangat keras dan berharap kami bisa mengeluarkan mereka dari sana."
Fenster pun menekankan bahwa ia diperlakukan dengan semestinya meski ditahan di penjara yang terkenal kejam. Ia tidak disiksa dengan rasa lapar, atau dipukuli, sedangkan kekhawatiran utamanya adalah dari segi psikis.
"Saya ditahan tanpa alasan. Itulah satu-satunya hal buruk yang terjadi, tetapi secara fisik saya sehat," tegasnya. Kepulangan Fenster pun disambut baik oleh pemerintah AS maupun keluarga sang jurnalis.
(wk/elva)