Belanda Terpaksa Tunda Perawatan untuk Pasien Kanker dan Jantung Imbas Gelombang Baru COVID-19
AFP
Dunia
Pandemi Virus Corona

Pada Jumat (19/11), pejabat kesehatan Belanda mengatakan jika mereka mulai menunda operasi untuk pasien kanker maupun jantung untuk mengosongkan ruang di unit rawat intensif.

WowKeren - Kasus COVID-19 di sejumlah negara Eropa dilaporkan kembali mengalami peningkatan. Belanda bahkan terpaksa menunda operasi untuk beberapa pasien.

Hal itu disampaikan oleh pejabat kesehatan Belanda pada Jumat (19/11). Tak hanya menunda operasi untuk pasien kanker namun juga pasien jantung. Langkah itu dilakukan agar bisa mengosongkan ruang di unit perawatan intensif selama gelombang rekor infeksi COVID-19. Juru bicara LCPS, organisasi nasional yang mengalokasikan sumber daya rumah sakit, menggambarkan kondisi itu mengerikan.

"Ini adalah pasien kanker yang sebenarnya harus dioperasi dalam waktu enam minggu setelah diagnosis, dan itu tidak akan terpenuhi dalam semua kasus. Ini juga pasien jantung," ujar jubir tersebut. "Ini mengerikan, tentu saja, untuk pasien."

National Institute for Health (RIVM) melaporkan rekor lebih dari 23.000 kasus baru dalam 24 jam sebelumnya pada hari Kamis (18/11). Jumlah ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan rekor harian sebelumnya sekitar 13.000 yang dicatat pada Desember 2020.


Belanda sejauh ini telah melakukan vaksinasi kepada 85 persen populasi orang dewasanya. Dibandingkan dengan puncak gelombang awal pada April 2020, tingkat rawat inap di rumah sakit dan unit perawatan intensif (ICU) sejauh ini masih lebih rendah, meskipun ada penundaan antara tanggal infeksi dan tanggal masuk rumah sakit.

Pada Kamis (18/11) tercatat hanya ada kurang dari 200 tempat tidur yang tersisa di ICU Belanda. Oleh sebab itu, rumah sakit berebut untuk menambah lebih banyak kapasitas tempat tidur.

Pada awal November lalu, pemerintah telah memberlakukan kembali aturan prokes untuk memakai masker ketika berada di toko. Bahkan akhir pekan lalu, pemerintah setempat telah memberlakukan kembali penguncian sebagian, termasuk menutup bar dan restoran setelah jam 8 malam.

Kendati demikian, upaya itu tampaknya belum memberikan hasil yang signifikan terutama pada perubahan jumlah kasus harian. Pada Kamis (19/11), virolog mengusulkan perpanjangan liburan Natal untuk memperlambat infeksi, mengingat infeksi ini meningkat lebih cepat di kalangan anak-anak.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts