Protes Soal Pengetatan Pembatasan COVID-19 'Meletus' Di Seluruh Eropa Berujung Ricuh
PA
Dunia
Pandemi Virus Corona

Angka kasus COVID-19 di sejumlah negara Eropa belakangan ini diketahui kembali meningkat. Akibatnya, pemerintah setempat kembali menerapkan kebijakan pengetatan pembatasan COVID-19.

WowKeren - Pandemi COVID-19 hingga saat ini masih terjadi di negara-negara dunia. Bahkan, belakangan ini, kasus COVID-19 di negara bagian Eropa diketahui mengalami kenaikan, hingga memasuki gelombang baru.

Alhasil, pemerintah setempat menerapkan kebijakan pengetatan pembatasan COVID-19 kembali. Hal ini rupanya memicu protes serta kemarahan yang telah menyebar ke Austria, Swiss, Italia, Denmark, dan Kroasia.

Pada awalnya, protes mengenai pengetatan pembatasan COVID-19 itu terjadi di Belgia dan Belanda. Saat masyarakat melakukan aksi protes atau demonstrasi kala itu, berujung ricuh dan memicu tindak kekerasan.

Amarah yang memuncak pada demonstarasi di Belgia dan Belanda selama akhir pekan ketika pembatasan COVID-19 yang lebih ketat itu memicu protes di beberapa negara Eropa lainnya. Pada Minggu (21/11), sepuluh ribu orang diketahui berbaris melalui pusat kota Brussel untuk melakukan aksi protesnya atas kebijakan pemerintah Belgia yang kembali memberlakukan pengetatan pembatasan COVID-19.


Adapun dalam aksi protes pembatasan COVID-19 tersebut, diperkirakan pihak kepolisian melibatkan sekitar 35 ribu orang. Pada awalnya aksi protes tersebut berlangsung damai, akan tetapi berubah menjadi kekerasan saat ratusan orang mulai melempari petugas, menghancurkan mobil, dan membakar tempat sampah. Akhirnya, polisi pun membalas dengan menyemprotkan gas air mata dan meriam air.

"Kami mengalami cedera, tetapi kami belum bisa mengatakan berapa banyak," terang Ilse Vande Keere selaku Juru Bicara Polisi, dilansir dari The Guardian, Senin (22/11). "Juga tidak jelas berapa banyak orang yang telah ditahan."

Lebih lanjut, pihak kepolisian menerangkan bahwa para demonstran sebelumnya berkumpul untuk memprotes saran pemerintah yang mewajibkan masyarakat melakukan vaksinasi COVID-19, dan kemungkinan tindakan "memaksakan" melaksanakan penyuntikkan booster. Dalam aksi tersebut, juga terdengar massa meneriakkan "kebebasan, kebebasan, kebebasan!", serta menyanyikan lagu anti-fasis "Bella Ciao".

Masih melansir The Guardian, para pengunjuk rasa tersebut diketahui berbaris di belakang spanduk yang bertuliskan "Bersama Untuk Kebebasan". Dalam aksi demontrasi tersebut, juga terlihat banyak tanda-tanda di antara kerumunan yang bervariasi seperti lencana sayap kanan hingga bendera pelangi komunitas LGBT.

Sebelumnya, dalam aksi demontrasi di malam kedua di Belanda pada Sabtu (20/11), lima orang petugas polisi terluka dan sedikitnya 40 orang ditangkap. Akhirnya pihak berwenang Belanda mengerahkan meriam air, anjing, dan polisi berkuda untuk menghalau kerumunan pemuda pembuat kerusuhan yang menyalakan api dan melemparkan kembang api di Den Haag, dan lainnya.

(wk/tiar)

You can share this post!

Related Posts