WHO 'Tolak' Program Vaksinasi COVID-19 untuk Anak dan Remaja, Ini Alasannya
AFP Photo
Dunia
Vaksin COVID-19

Sebelumnya Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengingatkan efek 'rasa aman palsu' yang dirasakan para penerima vaksin COVID-19, membuat mereka jadi lalai menjalankan protokol kesehatan.

WowKeren - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini mengungkap "rasa keberatan" atas program vaksinasi COVID-19 untuk anak-anak dan remaja. Rupanya WHO kembali menyoroti ketimpangan distribusi vaksin COVID-19, di mana masih banyak kelompok-kelompok berisiko tinggi yang belum mendapatkan jatah vaksin hingga sekarang.

Sedangkan di sisi lain beberapa negara memulai program vaksinasi COVID-19 untuk anak-anak dan remaja. Padahal WHO menilai anak-anak dan remaja merupakan kelompok dengan risiko rendah atau kecil kemungkinan mengembangkan gejala COVID-19 yang parah.

"Dengan banyaknya negara di dunia yang mengalami kelangkaan vaksin yang ekstrem," ujar WHO, dikutip dari Reuters pada Kamis (25/11). "Negara-negara dengan banyaknya populasi risiko tinggi COVID-19 harus diprioritaskan untuk mendapatkan pembagian global vaksin sebelum memvaksinasi anak-anak dan remaja."

Namun pada kesempatan yang sama, WHO juga menjelaskan soal berkembangnya efek samping langka pada penerima vaksin COVID-19 berbasis mRNA, seperti Pfizer dan Moderna, yang disebut miokarditis. WHO menegaskan bahwa efek samping semacam itu umumnya ringan dan bisa dirawat dengan pengobatan tertentu.


Masih terkait vaksin, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus sebelumnya juga menyoroti soal efek "perlindungan palsu" yang dirasakan oleh para penerima vaksin COVID-19. Menurut Ghebreyesus, banyak penerima vaksin yang merasa tidak perlu lagi waspada, apalagi patuh pada protokol kesehatan.

"(Padahal) vaksin menyelamatkan nyawa namun tidak sepenuhnya melindungi dari penularan," tegas Ghebreyesus. Meski demikian, vaksin COVID-19 tetap memberikan perlindungan terhadap paparan virus Corona, yang sayangnya semakin berkurang jika dihadapkan dengan varian Delta.

"Data menunjukkan, sebelum kedatangan varian Delta, vaksin mengurangi tingkat penularan COVID-19 sampai sekitar 60 persen," jelas Ghebreyesus. "Dengan adanya varian Delta, tingkat efektivitas itu berkurang hingga 40 persen."

Karena itulah, penerima vaksin harus tetap menjalankan protokol kesehatan dengan sebaik-baiknya. "Jika Anda sudah divaksin, Anda berisiko rendah mengembangkan gejala yang parah atau kematian, namun Anda tetap dalam risiko terinfeksi atau menginfeksi orang lain," jelas Ghebreyesus.

"Kita tidak bisa menjelaskan dengan detail. Namun jika Anda sudah divaksin, tetap ikuti protokol kesehatan untuk mencegah diri Anda terinfeksi COVID-19, yang bisa menginfeksi orang lain yang bisa saja meninggal karenanya," imbuhnya. Ini berarti harus aktif menggunakan masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan bertemu dengan orang hanya di area terbuka atau ruangan dengan ventilasi yang baik.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts